Menilik Pawai Ancak Sedekah Laut di Kota Tegal 12 Desember 2011

Bukan Tegal Kota Bahari namanya apabila tidak ada kegiatan yang berhubungan dengan laut. Tepatnya mulai 11 hingga 16 Desember 2011 kemarin, puncaknya 12 Desember 2011 , nelayan di Kota Tegal merayakan tradisi larung sedekah laut di  pelabuhan setempat sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan atas keselamatan, berkah, serta hasil tangkapan ikan melimpah.

Perayaan larung sesaji laut tersebut merupakan puncak dari tradisi perayaan sedekah laut yang diadakan rutin setahun sekali setiap bulan Muharam dan selalu dimeriahkan dengan berbagai kesenian lokal seperti tarian balo-balo, rolasan, serta toa pek kong, jaipong, dan pagelaran wayang golek.

Jalur Pawai Ancak yaitu melewati Jl Brawijaya, Jl Blanak, Jl Piere Tendean, Jl S Parman, Jl Proklamasi, Jl Veteran, Jl A Yani, Jl KH Mansyur dan finish di Pendapa Ki Gede Sebayu, Balai Kota Tegal. Di Balai Kota, peserta pawai diterima Wali Kota Tegal Ikmal Jaya SE Ak dan sejumlah jajaran SKPD. Wali Kota mengatakan, “Pemkot menyambut baik pelaksanaan pawai dan sedekah laut yang sudah menjadi tradisi masyarakat maritim di Kota Tegal.”

Sedikitnya enam kepala kerbau lengkap dengan makanan khas masyarakat pesisir pantai utara sebagai sesaji dalam upacara sedekah laut, enam replika kapal, dan rumah adat diangkut beramai-ramai menggunakan kapal ke tengah laut untuk dilarung atau dihanyutkan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Tegal, Mahmud Effendi mengatakan, enam ancak yang diarak merupakan sumbangan dari nelayan kapal purseseine (dua ancak), gillnet dan cantrang (dua ancak) dan tulakan atau kapal kecil (dua ancak).

Mahmud menyebutkan, pawai hingga Balai Kota pernah dilaksanakan pada saat kepemimpinan Wali Kota HM Zakir. Namun, setelah itu tidak lagi dilakukan. ”Dulu start dari Pendapa menuju ke pelabuhan, tetapi sekarang di balik finish di Pendapa,” paparnya.

Dia mengatakan, kegiatan sedekah laut menelan biaya hingga ratusan juta. Biaya diperoleh dari bantuan Pemkot, pemilik kapal, nakhoda dan Anak Buah Kapal (ABK).

Semoga tradisi ini bis terus dilestarikan dan menjadi salah satu aset wisata di Kota Tegal. 🙂



Sumber:

Kompas

Oase Kompas

Suara Merdeka

Foto oleh: @bdiarto

 

Related posts

Leave a Comment