Asal Usul Panggilan Jon dan Jack

Back to TegalMasyarakat Tegal dikenal memiliki karakter cenderung terbuka. Maka mampu melahirkan keakraban pergaulan. Salah satu keunikan wong Tegal adalah cara menyapa kepada sesama teman sebaya yang menggunakan panggilan sedap, dan bikin geli: “Jon” dan “Jack“.

“Jamune apa Jon?

“……. !”

“Ya… bagus!!”

Demikian salah satu dialog iklan obat kuat yang dapat didengar di radio-radio Tegal dan sekitarnya. Sebutan Jon telah menjadi milik masyarakat Tegal, meski sapaan ini terkesan “Ngamerika”.

Pendatang baru di Kota Tegal tidak perlu heran dengan cara ini. Orang terbiasa saling sapa dengan Jon, kepada rekannya. Tapi, banyak juga yang belum tahu asal-muasal panggilan khas Tegal itu.

Saat menelusuri asal-usul sebutan itulah, suatu saat saya bertemu Eko Tunas, sastrawan dan esais asal Tegal yang kini tinggal di Semarang. Dalam obrolan dengannya di sebuah warung Alun-alun Tegal, ia menyingkap rahasia panggilan Jon dan Jack.

Ya, bermula dari Eko Tunas sapaan Jon itu dimulai. Konon semasa muda, dia punya dua sahabat Iman, dan Liman. Karena dua teman itu dikenal oleh hampir semua warga Kampung Kalibuntu, terbetik keinginan Eko menjuluki mereka dengan nama yang lumayan keren. “Dari komik-komik koboi yang saya sukai, saya menemukan dua nama yang menurut saya pantas disandang oleh Iman dan Liman. Maka tanpa pikir panjang saya pun menjuluki Liman dengan Jack dan Iman dengan sebutan Jon,” Ujar Eko.

Menurut Eko Tunas, Jon (Iman) memiliki karakter yang kuat. Ia dikenal teman-temannya sebagai sosok yang fleksibel dan mudah bergaul. Kenakalannya acapkali membikin banyak orang keder. “Sedangkan Jack sedikit lebih alim ketimbang Jon,” tambahnya. “Namun demikian, dua orang itu tetap saja jadi idola banyak orang karena kekompakannya.”

Menurut Eko, yang mengesankan bagi teman-teman Jon dan Jack, adalah kenakalan mereka. “Jon dan Jack kalau ngerjain kawan, tidak tanggung-tanggung. Pernah suatu malam kami semua dibikin kalang kabut oleh ulah mereka”.

Jon, lanjut Eko, menjanjikan akan membagi-bagikan pil narkoba. Mendengar tawaran itu, kontan saja semua temannya menyambut penuh semangat. Dan di tempat yang ditentukan, Jon menepati janjinya. Semua teman -termasuk Eko-malam itu disuruh membuka mulut kemudian dimasuki “pil setan” kepunyaan Jon. Namun, apa yang terjadi? Setelah beberapa menit menelan obat itu, semuanya merasa ingin (maaf) berak.

Belakangan Radar Tegal, satu-satunya Harian Pagi Tegal menggunakan “idiom” Kang Jon sebagi tokoh bijaksana dalam kolom tetap, Serambi Miring. Lutfi AN, Redaktur Pelaksana harian itu mengatakan, “Hal inilah yang menambah popularitas sebutan Jon pada akhirnya menjadi salah satu kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Tegal. Untuk itu kami berkewajiban melestarikannya”.

Sebutan Jon selain lebih terkesan manusiawi dapat melahirkan keakraban dalam pergaulan sehari-hari. Bandingkan dengan kota lain. Tak jarang kita jumpai untuk menyapa sesama rekan seseorang cukup menggunakan sebutan Dus (wedhus-kambing), Thek (kethek-monyet) Su (asu-anjing).

Pemakai sebutan ini pun tidak hanya berlaku bagi masyarakat bawah saja. Kalangan eksekutif, legislatif dan usahawan di Kota Tegal pun terbiasa menggunakan.
Sumber:
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4796000

Gambar dari KaosGalgil

6,402 total views, 8 views today

Related posts

  • ryan

    kayonge nyong kurang setuju asal-usule jack karo jon, terus kayonge sing ana cuma jon, jack hampir sama sekali laka babar blas wong tegal sing nganggo.

  • mas oiy

    iya bener kweh um, nyong awit mbiyen ya ngertine mung Jon, ndean tah ana sing nganggo jack tapi jarang…

  • ariiskandar

    pantese jon, soale lebih sip

  • alyosay

    Dulu memang ada panggilan jack kok, tapi memang kalah popoler dengan panggilan jon …. Sekarang “jon” pun sudah mulai memudar …

    Mengenai panggilan dus, thek, su, dalam perspektif Jawa, nama orang memang bisa diambil dari nama alam, yang diantaranya dari nama flora dan fauna. Jadi sah-sah saja mereka memanggil kawan mereka dengan sebutan seperti itu. Yang bisa jadi masalah adalah ketika manusia dari budaya lain datang dengan perspektif berbeda.