Tradisi Tekwinan

tekwinanBertandang ke daerah seputaran Adiwerna atau lebih tepatnya di Desa Pagiyanten ada tradisi unik ketika memasuki bulan Mulud atau bulan Rabiul Awal terutama pada malam bulan 8, yaitu adanya tradisi Tekwinan. Ada yang menyebutnya TekwinanTakwinan, Tekewinan bahkan Bada Layah. Nama yang sangat unik. Bahkan ada yang mengira ini semacam tradisi nikahan. Padahal tradisi tersebut adalah pembacaan kitab Al Barzanji di musholla atau di masjid-masjid.

Tradisi tersebut diramaikan dengan adanya “Layahan“, yaitu layah (cobek) yang berisi aneka macam jajanan untuk anak – anak. Layah disini menggunakan tanah liat seperti yang digunakan ketika kita berada di lesehan pecelan. Namun sejalannya waktu, Layah semakin jarang ditemukan. Untuk menghematnya, digantilah Layah dengan kertas plastik wadah lauk yang biasanya digunakan pada “berkat”.

Apa saja isi Layah? biasanya isinya aneka jajanan anak kecil, buah, dan apabila beruntung, terkadang ada yang menyelipkan beberapa lembar uang di dasar layah. Untuk Layah yang berisi dengan jajanan anak kecil, ada yang menyebutnya dengan Matarip.

Pada awalnya, Layahan ini bermaksud untuk mengundang anak kecil agar mau ikut ke masjid. Namun sekarang pembagian layah tersebut lebih ke tetangga dekat rumah atau sanak saudara.

tekwinan 2Bagi orang dewasa, layah tersebut berisi dengan ketan yang ditaburi dengan parutan kelapa. Sehingga dewasa maupun anak-anak tetap mendapatkan bagian.

Tradisi ini tidak hanya ada di Desa Pagiyanten, namun juga ada di desa-desa lainnya yang ada di Tegal.

Tradisi unik bukan? Semoga tradisi ini tidak punah dan terus lestari 🙂

1,897 total views, 4 views today

  • fajar

    gemiyen jaman SD dang bengine tekwinan esuke lagsung go masak2an, tapi saiki kayonge wis laka maning tradisi kue, sedih nyong 🙁