Tradisi Pengajian Warga Tegal

Amin Akhmad FatkhulSebagai daerah yang berada di pinggiran pantai utara, Tegal merupakan salah satu daerah yang menjunjung tinggi nilai keagamaan, khususnya Islam. Bahkan nilai keislaman terasa lebih menonjol dari pada nilai kejawaan yang notabenya merupakan suku asli dari mayoritas penduduk Tegal. Tingginya tingkat keberagamaan warga Tegal salahsatunya bisa dilihat dari kegiatan keseharian warganya, dari senin sampai senin lagi hampir tak pernah sepi akan kegiatan yang bertema islami atau pengajian. Nama kegiatan itu biasa disebutnya dengan nama hari berlangsungnya kegiatan tersebut, misal, jika kegiatan pengajian rutin setiap senin, maka disebutnya pengajian seninan, kalau yang rutin tiap selasa, disebutnya selasanan, begitu seterusnya.

Dari berbagai keterangan dari para Habib, Kyai, serta para Ustadz, kegiatan seperti itu memang sudah menjadi tradisi keberagamaan umat Islam warga Tegal dan sekitarnya. Setiap harinya warga Tegal selalu haus akan kegiatan-kegiatan seperti itu. Kegiatan pengajian itu biasanya diisi dengan berbagai macam kegiatan seperti pembacaan ayat suci Al-Quran, pembacaan dzikir, tahlil dan shalawat, ceramah agama langsung dari Habib, Kyai atau Ustadz, dll.

Tidak hanya dilakukan oleh para bapak dan ibu, bahkan remaja sampai anak-anak juga banyak yang mempunyai waadah pengajian rutin seperti itu sendiri. Dengan bimbingan seorang Ustadz, pengajian rutinan anak-anak juga dilaksanakan setiap satu minggu sekali layaknya yang dilakukan para orang dewasa. Tempatnyapun berpindah-pindah secara bergiliran. Untuk yang remaja-remaja, biasanya diadakan juga pembacaan kitab Al-Barzanji atau simtud duror dengan diiringi musik terbangan/rebana/gambusan.

Ditengah derasnya cap bidah yang dilekatkan oleh kalangan Islam yang mengaku memurnikan sunnah, kegiatan tradisi keislaman semacam itu masih laris manis. Bagi mereka, kegiatan tersebut banyaklah manfaatnya. Memang, mungkin Nabi tak pernah mengajarkan untuk rutinan seminggu sekali pengajian bergiliran dari satu rumah ke rumah lain, tapi bukankah nabi mengajarkan umatnya untuk selalu belajar dan mencari ilmu, berdzikir, membaca ayat-ayat Al-Quran, bersilaturahmi, serta bersedekah. Melalui sarana pengajian rutinan itu warga masyarakat Tegal belajar ilmu agama dari narasumber langsung, berdzikir bersama, bersilaturahmi dengan para tetangga, dan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Rasa tolong-menolong dan saling meringakan juga terlihat di acara pengajian rutinan seperti itu. Untuk meringankan beban yang menjadi tuan rumah, biasanya diadakan iuran rutin anggota, dan hasil uang yang terkumpul akan diberikan kepada tuan rumah. Dengan iuran tersebut diharapkan setidaknya bisa mengurangi beban tuan rumah untuk menjamu para tamu pengajian. Bahkan beberapa diantaranya, atasa inisiatif sendiri banyak juga yang memberikan sumbangan berupa gula, teh, atau makanan ringan yang bisa dihidangkan ke jamaah pengajian nantinya.

Sungguh indah kehidupan keislaman di Tegal. Setiap warga belajar Islam bersama, tidak ada yang merasa sombong, merasa paling benar, bahkan merasa paling alim, tidak ada pula yang saling menyalahkan. Semua permasalahan baik masalah keagamaan atau bahkan masalah duniawi bisa dibicarakan bersama-sama saat bertemu di pengajian, kalau butuh bimbingan bisa langsung minta penjelasan kepada narasumber langsung. Semoga tradisi keislaman seperti itu bisa abadi dan berlangsung sampai kapanpun, tidak hanya di daerah Tegal, kalau bisa diseluruh plosok Indonesia, bahkan dunia. (Amin).

Penulis:

Amin Akhmad Fatkhul

Sumber: Kompasiana

1,193 total views, 2 views today