Asal Muasal Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal

Randusari merupakan salah satu dari 13 desa di kecamatan Pagerbarang kabupaten Tegal. Desa terbesar dan terbanyak penduduknya dibandingkan dengan desa-desa yang lain. Desa ini merupakan gabungan dari dua desa yang disatukan pada masa perjuangan Republik Indonesia.

Desa Randusari merupakan daerah  perbatasan antara kabupaten Tegal dengan Kabupaten Brebes.Randusari  Masih termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Tegal.Pada waktu itu  Berpenduduk sekitar 12 ribu jiwa lebih dengan 6 pedukuhan termasuk wilayah teritorial kecamatan Pagerbarang.

Pada jaman Kemerdekaan Desa Randusari merupakan gabungan dari dua desa di wilayah kabupaten Tegal. Yaitu desa Dukuhrandu dan Desa Kertasari, dengan digabungnya kedua desa tersebut maka nama desa disepakati dengan nama Randusari.

Konon sebelum ada desa Randusari, tersebutlah seorang tokoh atau sesepuh desa Dukuhrandu yang bernama Mbah Santeg. Beliau merupakan salah satu prajurit pilihan dari pasukan Untung Suropati dari Jaya Karta.

Pada saat Untung Suropati dimintai bantuan oleh Mataram Islam untuk melawan Penjajah. Dalam perjalanannya menuju Mataram, Untung Suropati menempatkan panglima-panglimanya menjadi spionase atau telik sandi untuk kepentingan kerajaan Jayakarta pada waktu itu. Dimaksudkan agar dapat mengetahui kantong-kantong penjajah pada masa itu. Mbah Santeg akhirnya ditempatkan di desa Dukuhrandu yang masih bersebelahan dengan desa Kertasari.

Desa Kertasari, meskipun merupakan tetangga desa dukuhrandu namun secara garis keturunan masih ada pertalian darah dengan masyarakat desa Dukuhrandu. Tak heran untuk sesepuh kedua desa tersebut merujuk kepada seorang tokoh central yang paling disegani yaitu mbah Santeg yang masih merupakan anggota pasukan khusus dari Untung Suropati dari Jayakarta.

Benang merah inilah yang mungkin menjadikan masyarakat desa Randusari sebagian besar mencari penghidupan atau mengadu nasib di Jaya Karta (sekarang Jakarta). Dibanding desa yang lain di kecamatan Pagerbarang, warga desa Randusari seperti sangat mendominasi nilai prosentase perantau ke Jakarta.

Panggilan jiwa dari sang leluhur bisa jadi seperti itu sebutannya. Sepertinya sudah ada yang menggiring untuk ke Jakarta. Ada ikatan batin untuk pulang ke Jakarta, yang merupakan kampung halaman Mbah Santeg.

Ada hal yang lebih membuat desa Randusari seharusnya diperhitungkan lagi. (Riyanto, Babad Nagari Tegal. 2005:27)Tumenggung Tegal, atau yang disebut Raden Purbaya pada masa Tegal masih menjadi kerajaan bayangan dari Mataram Islam, tepatnya masa pimpinan Ki Gedhe Subayu, disinyalir Tumenggung Tegal berasal dari desa ini sebelum ada penggabungan. Yakni dari desa Kertasari. Nama awal Tumenggung Tegal adalah Raden Angrabaya, beliau diduga merupakan Admiral Turkey yang mengungsi akibat terjadinya perang di Banten. Setelah menghindari peperangan karena merasa diadu domba oleh VOC, maka beliau menyingkir menuju daerah pesisir utara pulau Jawa. Tepatnya beliau menetap di dukuh Sumbregan, desa Kertasari.

Menyamar dengan nama Ki Jaduk, lantas beliau mendirikan padepokan di dukuh Sumbregan tersebut. Pada saat Ki Gedhe Subayu akan memugar masjid utama Kadipaten Kalisoka, maka ki Gedhe Subayu mengadakan sayembara untuk merobohkan pohon jati  keramat untuk diambil kayunya sebagai soko guru bangunan masjid.

Dari sekian banyak jawara atau pendekar yang maju ternyata tidak ada yang mampu menumbangkan jati keramat yang letaknya sekarang menjadi bangunan Brigif Infanteri 207. Sayembara melibatkan 25 pendekar yang merasa mempunyai kedigdayaan untuk merobohkan pohon jati keramat.

Satu-demi satu pendekar tersebut gagal. Namun saat tiba giliran pendekar yang terakhir(yang ke-25) yaitu ki Jaduk, beliau  ternyata dapat menumbangkan jati tersebut dengan kedigdayaannya. Karena jumlah pendekar yang ikut sayembara itu berjumlah dua puluh lima orang atau dalam bahasa Jawanya disebut selawe wong maka daerah sayembara dan tumbangnya pohon jati tersebut diberi nama Selawe atau yang sekarang disebut Slawi.

Setelah itu ki Jaduk atau Raden angrabaya atau orang biasa menyebut Raden Purbaya dapat menumbangkan jati keramat itu,  maka dinikahkanlah Raden Purbaya tersebut dengan putri ki Gedhe Subayu yang bernama Raden Ajeng Siti Giyanti Subalaksana.

Setelah Ki Gedhe Subayu mangkat,  tampuk pimpinan dilanjutkan oleh putra lelakinya yang bernama Ki Ageng Hanggawana selama lima tahun. Sesudah  masa kepemimpinan Ki Hanggawana selesai, maka pucuk pimpinan adipati Tegal dipegang oleh Raden Purbaya, kemudain dalam sejarah beliau lebih dikenal dengan sebutan Tumenggung Tegal.

Itulah sekelumit sejarah atau asal muasal desa Randusari. Semoga yang sedikit ini dapat mengurangi rasa haus pembaca dalam mencari literature sejarah khususnya sejarah Desa Randusari dan umumnya sejarah kabupaten Tegal.

 

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=232703653410422

2,528 total views, 1 views today

Related posts

  • Moh Saerozi

    lengkapin nama2 lurahe, tambah ttg cawarca,trus keturunan terakhir/sekarang dari mbah santeg sapa?