Bahasa Tegal Yang Unik

sosialisai kamus tegalPendahuluan

Menurut EM Uhlenbeck,seorang ahli bahasa Jawa dari Belanda mengelompokkan bahasa Jawa menjadi 3 kelompok,yakni:

a.Kelompok bahasa Jawa bag.timur (Malang,Surabaya,Madiun)

b.Kelompok bahasa Jawa bag.tengah(Surakarta,Yogyakarta dan Semarang)

c.Kelompok bahasa Jawa bag.barat (Tegal,Banyumas,Cirebon,Banten Utara).

Bahasa Tegal adalah bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi, identitas/jatidiri masyarakat yang berasal dan bertempat tinggal di wilayah Tegal (kota/kab) dan sebagian kab.Brebes dengan penutur kl.3 juta.

Sebagai sebuah bahasa,bahasa Tegal memiliki ciri dan kaidah sendiri dalam hal fonetis-fonologis (huruf dan bunyi),morfologi (pembentukan kata dengan penambahan/pengurangan huruf) ,sintaksis (susunan kata dalam kalimat) maupun semantik.(tatabahasa).

I. Kedudukan Bahasa Tegal

  • UUD 45 ps.32 ayat 2. (Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional)
  • UU 32/2004 ttg.Otonomi Daerah ps.22 huruf m (Pemerintah daerah berkewajiban melestarikan nilai2 sosial budaya daerah.
  • Perda propinsi Jateng no.17/2012 yang mengharuskan satu hari dalam satu minggu menggunakan bahasa daerah (sesuai dengan bahasa lokal masing2 daerah) di semua dinas/isntasi/sekolah/lembaga perusahaan dsb.

II. Bahasa Tegal Sebagai Bahasa Ibu

Sejak th.1951 Unesco telah merekomendasikan bahasa ibu sebagai bahasa pengantar pendidikan.

Sejak th.2000 Unesco telah menetapkan setiap tanggal 21 Pebruari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

(untuk mengenang “revolusi bahasa”,yakni demonstrasi dan pengorbanan rakyat Bangladesh dibawah kekuasaan Pakistan th.1952 dalam mempertahankan bahasa Bengali sebagai bahasa ibu rakyat Bangladesh).Dengan peringatan ini diharapkan setiap bangsa akan memelihara bahasa ibu agar tidak kehilangan budaya dan identitasnya.

Bahasa Tegal adalah satu dari 700 bahasa ibu di Indonesia yang yang masih digunakan. 169 bahasa ibu di Indonesia terancam punah.

Sebagai bahasa ibu dan warisan budaya,bahasa Tegal dapat didaftarkan ke badan dunia Unesco sebagaimana wayang, keris,angklung dsb.Syaratnya a.l.adanya penutur,regenerasi,dan literasi (penerbitan buku2 a.l.kamus).

Dalam tataran praktis bahasa Tegal sudah digunakan untuk pelbagai kepentingan, a.l.

  1. Komunikasi sehari-hari antar warga dan keluarga
  2. Slogan daerah : – Tegal Keminclong Moncer Kotane, Tegal Laka-laka,Kabupaten Tegal sing Mbetahi lan Ngangeni.
  3. Media cetak Siaran radio : Rubrik Ngresula (Radar Tegal),Warung Poci (Suara Merdeka),Iklan/Jingle/Lagu-lagu Tegalan/Narasi penyiar /banyak yang menggunakan bahasa Tegal.Bahkan setiap hari jadi kabupaten/kota Tegal dalam Upacara Bendera maupun Sidang Paripurna DPRD selalu menggunakan bahasa Tegal.(dibacakan contoh pidato Bupati Tegal).
  4. Dakwah Islam / Khotbah Jum’at di mesjid yang ada di desa-desa.
  5. Terbitan buku-buku berupa  karya sastra  (puisi,cerpen,monolog dsb).

III. Bahasa Kasar dan Bahasa Halus

Bahasa Tegal hanya mengenal strata bahasa ngoko dan bebasa (krama) dan  tidak mengenal krama inggil,sebagaimana bahasa Jawa baku.Beberapa pakar linguistik menerangkan adanya “kekuasaan simbolik” yang menciptakan/menumbuhkan strata bahasa baru sebagai lambang kekuasaan.Hal ini dilakukan oleh kekuasaan Mataram dengan menciptakan strata bahasa baru untuk membedakan adanya feodalistik,raja dan kawula,priyayi dan bukan priyayi,bahasa rendahan dan adiluhung,yang berakibat pemberian stigmatisasi kepada penuturnya sebagai kelompok masyarakat yang rendah,kasar,tidak punya tatakrama dan tidak bisa menduduki jabatan2 tertentu.

Bagi penutur Bahasa Tegal yang bukan penutur asli, akan sangat sulit untuk mempelajari, merekonstruksi dan memahami pembentukan kata dalam bahasa Tegal.

1. Kosakata asli atau bentukan ?

menangi atau ngranapi = pernah mengalami,pernah mengetahui ; tidak berasal dari kata menang yang mendapat awalan  me dan akhiran i ;

mesusi = mencuci beras (sebelum ditanak) ; tidak berasal dari kata sus, atau mesus, atau susi

Pacetan = jajanan yang disuguhkan, snack ;  bukan dari kata macet

Kaliren = kelaparan ; bukan dari kata lir (?)

Tretean (belajar berjalan), rajungan (sejenis kepiting) dsb. Adalah sebuah kosakata,bukan kata bentukan.

Disukani : diberi. Apa kosakatanya ? suka,sukan,?

Dienteni, apa kosakatnya ?enten ?

Kedangdapan  ; kedebugan apa kedabigan..(semaunya,terserah)

Kedhobhrohan ?semaya ?

2. Rinci

Bahasa Tegal memiliki kosakata yang sangat rinci.dan memiliki kontek yang khusus (kontekstual)

Elik dan purik

Kendel dan wani

Si Bodong bocah kendel, bengi2 wani mlaku nang kuburan

Si Jablud bocah kecing, ora wani mlaku dewekan.

Si Damad wani mering wong tuwa.

Hanya penutur asli dan teliti yang mampu  membedakan antara kecing dan wedi, wani dan kendel.

Bobot dan abot .

Bobote 5 kg. Nyambut gawe abot.

Njiwit,nyethot,nyethit,njewel,nyemol,nyuwol dsb  dalam bhs Ind. hanya mencubit.

Kata sifat/kata keterangan yang mnenunjukkan setengah/hampir/antara : semineb, cepel,magel, kemanjon,

sifat/keterangan yang menunjukkn keadaan lebih/sangat,misalnya : dalu ,klomoh,kepoh

3. Banyak persamaan kata/ sinonim

Rada – radan – sada- sadan – semada- semadan –semanda- semandan –  mada – madan – manda- Mandan. ( 12 macam kata untuk mengatakan agak)

Sarug-nyarug – nggesruk-nggesrak – kejedhag-kejengkang – njadhag-gupak

klomoh, klopot,glopot,kepoh,letheh

thingkring,mlangkring,ketingkring,thethingkring dsb.

mlangkring kk.: naik di atas ; kt.lain nangkring,ningkring, thing kring,kethingkring, thething -kring.

nembē kkt : baru saja ; kt.lain tembē,tembēnē,nembēkē,mbēkēn.

oncēk : kupas ; kt.lain oncēt atau ocēt; ngocēt (ngocēti) : mengu pas.

4. Makna/ arti  yang tidak umum/ lazim

nglancong : bertamu tdk ada hubungannya dngan pelancong,wisata…. ,

nglusmen : makan di warung, tdk ada hubungannya dengan losmen (penginapan) <– ngrusmen (by: @infotegal)

plesir. : yang berarti melancong.

5. Tanda baca yang  dapat merubah arti

Ketel : rambut tebal ; kètèl  : teko untuk merebus air

Tetel : padatkan,ditekan supaya muat ; thēthēl : menyayat daging.

Kecap : ucapan ; kécap ; soya.

Kenthir : tidak waras ; kèntir : hanyut.

Kerē : tirai bamboo ; kéré : pengemis.

Keri : geli ; kēri : tertinggal

Tekek, tekēk

6. Kata/ istilah khusus

mencuci beras ->mesusi ;

membeli beras -.> nempur ;

merebus beras -> ngliwet/adang ;

tempat beras -> perdaringan ;

menumbuk padi -> nutu ;

sosoh ->mmbersihkan/memutihkan ;

memotong padi -> derep.

Nglethak,nglethuk,nglethis,nyigit.masing2 menggigit benda2 yang khusus.ngoncog,

Pecoh….?

Ngalubi, ngangsu.

7. Sulit diterjemahkan

 

8. Berubah atau berpindah huruf (morfofonemik)

Wira wiri ->riwa riwi.   Nglancong ->nganclong. Ēcēran -> ētēran Mencuci ->mesusi      Kabehe -> kadhēhē ; sinau – genau ; dadi –gadi ; durung-guruing-hurung;dudu-gudu-hudu;

Penutup

Sebagai salah satu dari 700-an  bahasa ibu yang ada di Indonesia,bahasa Tegal selama berabad-abad tumbuh dan berkembang dengan liar hanya sebagai sarana kumunikasi verbal dan hampir tidak pernah digunakan dalam wacana literasi dan pendidikan. Hal ini mengakibatkan pola-pola sintaksis dan tatabahasa yang menyimpang dan terjadinya banyak perubahan fonetis fonologis dan juga perubahan morphologis.

Hal-hal tersebut sudah tentu akan lebih memperkaya ekspresi Sastra Tegalan baik dalam penulisan puisi maupun narasi-narasi prosa dan drama.Sayangnya leksikon ekspresif tersebut seringkali hanya digunakan untuk bahan lawakan atau trik memancing tawa.

Sama halnya dengan bahasa Indonesia maka serapan bahasa asing tidak bisa dihindari oleh pengguna bahasa Tegal.Disamping adanya kreatifitas bahasa yang muncul dari jargon yang tidak ketahuan dari mana sumbernya,kharim,padasan,pejaratan,nderes,wapèk,waplo,um (oom),jakwir,goceng,ceban dsb.***

(Disusun dari pelbagai tulisan yang

yang pernah diterbitkan dan disampaikan dalam acara sosialisasi

Kamus Tegal –Indonesia di Kantor Bappeda Kabupaten Tegal

Sumber: Jendela Tegal

2,779 total views, 3 views today