Menggagas Wisata Sejarah dan Budaya di Kabupaten Tegal

Gerbang Desa Wisata Sejarah Kabupaten Tegal
Gerbang Desa Wisata Sejarah Kabupaten Tegal

Tulisan ini sebenarnya sudah saya siapkan setahun yang lalu (2010), tapi tidak saya publikasikan. Sudah berulang kali saya print ( Cetak ) dengan niat untuk dikirim ke harian lokal atau regional. Tetapi saya masih ragu ragu apa nanti dimuat atau tidak, karena sudah lama saya tidak menulis. Tetapi membaca harian Suara Merdeka terbitan 18 April 2011, di halaman pantura C, paling bawah ada judul yang menggelitik sehingga saya tergingat akan tulisan saya ini. “Pemkab Prioritaskan Wisata Sejarah”, judul ini bila ditarik garis lurus akan menyambung dengan judul tulisan saya.

Seperti yang sering kita dengar bila kita mendengar demak, pasti pikiran kita langsung melayang ke masjid Demak, begitu pula mendengar nama kota Yogyakarta, terbayang bangunan kraton Yogyakarta yang hingga kini masih berdiri megah.

Generasi muda di Kabupaten Tegal sekarang hampir hampir tidak mengenal tempat tempat bersejarah yang ada di Kabupaten Tegal , mereka hanya tahu Obyek wisata Bojongsari ( Owabong) di Purbalingga, Guci di Bumijawa atau Pantai Alam Indah di Kota Tegal. Atau tempat wisata modern seperti Rita Mall, Pacific Mall atau Dedy Jaya Mall (red: Dedy Jaya Plaza, sekarang sudah tutup). Tetapi jika kita menengok sejarah, Kabupaten Tegal itu ternyata mempunyai banyak tempat bersejarah, seperti Makam Amangkurat I di Pesarean, Makam Ki Gede Sebayu Danawarih, Makam Ki Ageng Hanggawana di Kalisoka, Makam Semedo di Kedung banteng, Monumen Perjuangan GBN di Slawi, PG Pangka, atau Makam Ki Bahurekso di Gunung Tanjung (red. Bukit Sitanjung), semua itu yang kini hampir tidak tersentuh malah nyaris di biarkan terbengkalai.

Bukan hanya jaman sejarah, Kabupaten Tegal juga kaya akan artefak artefak jaman prasejarah, seperti yang baru baru ini rame diberitakan di media, seperti penemuan fosil di hutan Semedo Kedung Banteng dan bangunan candi di daerah Lebaksiu.

Andai kita bisa menerawang keemasan jaman lampau setidaknya ada bayangan seperti yang tergambar dibawah ini . Gambaran kemegahan Kabupaten Tegal masa lampau dimana Kalisoka sebagai ibukota kabupaten masih berdiri, mungkinkah jika kemegahan itu dimunculkan kembali tetapi dengan arsitektur modern dan di isi dengan teknologi masa kini, seperti yang akan saya bayangkan dibawah ini :

Saka itu masih berdiri kokoh, dengan ukiran Jawa tempo dulu. Marmer mengkilat dengan ukuran 90 x 90 cm juga masih terawat rapi. Plapon Pendopo Kabupaten dari kayu jati yang dipernis dengan warna merah bata seakan masih terasa bau tanahnya. Halaman luas dengan tanaman sawo kecik dan beringin terlihat rindang. Luas bangunan pendopo Kabupaten sekitar 250 m2 seakan simetris dengan luas halaman Lapangan Upacara Kabupaten yang menghijau dengan tanaman rumput Jepang.

Terakhir Pendopo direnovasi tahun 2084 pada masa kepemimpinan Bupati Luhur Budoyo yang benar benar menata Suasana Kabupaten Tegal menjadi lebih indah. Pendopo Kabupaten benar benar kelihatan rohnya, Gerbang Kabupaten yang dibangun megah dengan hiasan batu batu alam dan lampu lampu minyak kelapa yang indah yang terbuat dari perak dan kuningan, buatan Kota Gede Yogyakarta. Para SATPOL yang berada di Pos penjagaan Kabupaten kelihatan gagah menyambut di depan dengan motor 250 cc diparkir disamping pos.

Kalau kita melihat lurus ke utara setelah GOR Trisanja, jalan lebar 8 meter berhotmik halus mengantar kita ke arah Kabupaten Tegal tempo dulu, Desa Kalisoka, sebagai cikal bakal Kabupaten Tegal kini telah berubah total, julukan sebagai Desa Wisata Sejarah dan Budaya sudah di sematkan.

Dulu sekitar tahun 2011 jalan itu masih berupa jalan desa biasa yang banyak ditumbuhi rumput liar, kanan kiri terdapat hamparan tanaman palawija dan sebagian tebu menghijau.seakan menutupi aura kesakralan sebuah kraton. Keberadaan kraton Kabupaten Tegal Tempo Dulu seakan hilang ditelan bumi. Padahal sejarah telah mencatat dahulu sekitar tahun 1601 M disini telah berdiri pusat pemerintahan Kabupaten Tegal, sebuah Ibukota Kabupaten yang sangat ramai dengan banyaknya pengrajin emas, pengrajin tenun dan pedagang yang tinggal di sekeliling kraton. Setelah terjadi huru hara, kraton itu bak ditelan bumi, hancur lebur di bakar dan di bumi hanguskan oleh perang saudara. Dan kini tak berbekas sama sekali, hanya Masjid Kasepuhan dan Makam Ki Ageng Purbaya yang berada di barat kali yang masih tersisa, kraton Kabupaten Tegal kini tak nampak, kini tinggal nampak persawahan dan perkebunan tebu yang menghampar. Jalan setapak yang belum diaspal dan ditumbuhi tanaman liar, areal bekas kratonpun kini entah siapa pemiliknya, hanya kandang ayam, dan bahkan pengrajin bata dan tukang arit yang kadang menyambangi daerah tersebut.

Setelah 76 tahun berlalu, ide membangun kembali kraton Kabupaten Tegal itu muncul ketika Bupati Luhur Budoyo menjabat sebagai Bupati Tegal. Entah apa yang ada didalam benak pikiran beliau sehingga punya ide tersebut,

Kini Desa Kalisoka telah berubah total, ruh sebuah ibukota kadipaten tempo dulu/kuno telah nampak kembali, Masjid Agung kasepuhan dibangun megah dekat pemakamam Ki Ageng Hanggawana. Dikelilingi pohon palm dengan alun alun sebagi tempat grebeg menjelang maulud atau upacara keagamaan lainnya.

Masjid Kewalian yang bersebrangan dengan Kraton Kabupaten juga masih berdiri gagah dengan tetap menjaga keaslian bangunannya. Memang Kraton menurut babad, itu berada di sebelah timur sungai Kalisoka, simetris dengan keberadaan masjid kewalian yang berada di sebelah barat sungai.

Desa Kalisoka masuk pada wilayah kecamatan Dukuhwaru. Sebuah desa wisata sejarah dan budaya.. Pemerintah daerah Kabupaten Tegal mendukung segala pembangunan fasilitas dan pemeliharaan aset aset sejarah yang ada daerah Kabupaten Tegal yang mempunyai sejarah yang sangat istimewa.

Tekhnologi boleh berkembang tapi budaya dan sejarah tidak boleh kita lupakan, buktinya pembangunan desa wisata dan budaya beriringan dengan pembangunan intrastruktur modern, seperti terminal bis, pasar cindramata, hotel hotel juga tumbuh subur di daerah wisata sejarah tersebut. Jalan jalan yang lebar dan berhotmik, saluran air pendukung pertanian masih tetap berfungsi, pohon pohon palm, sawo kecik atau beringin tumbuh subur menghijau. Menara menara BTS/ telekomunikasi, jaringan telepon dan internet juga bisa dijumpai di Kalisoka.

Sosok pemimpin Kabupaten Tegal diharapkan bisa membaca keadaan tersebut, dengan terus menjaga dan melestarikan aset sejarah dan budaya yang ada, karena jika pemerintah tidak turun tangan, niscaya akan hilang dan luntur.

Tegal kaya akan potensi wisata sejarah, ada makam Raja Mataram Amangkurat I yang didalamnya ada pula Makam RA Kardinah, makam Syeh Jambukarang di gunung tanjung, atau makam di Semodo. Jika pemerintah mau mengembangkannya niscaya akan jadi daerah tujuan alternatif bagi wisatawan, selain wisata alam di Guci, Purwahamba dan pemandian Kalibakung. Wisata sejarah juga jangan sampai kita lupakan. Juga bisa sebagai bahan pendidikan anak anak kita dimasa mendatang.

Seperti yang dikatakan oleh Ir bambang Purnama, Koordinator LSM Gerbang Mataram, “Dengan belajar sejarah, masyarakat dapat mengetahui bagaimana perjuangan para pendahulunya sehingga meraka bisa memetik pelajaran yang berharga”, gayung ini pun bersambut oleh Pemkab Tegal, seperti yang dikatakan oleh Kabid Kebudayaan Tien Mei Antias, Untuk wisata sejarah pihaknya ( Pemkab Tegal ) akan memprioritaskan beberapa kawasan yang selama ini dikunjungi masyarakat, seperti makam Ki Gede Sebayu dan makam Amangkurat yang menyimpan sejarah tentang keberadaan raja mataram di Kabupaten Tegal.

Setidaknya ini langkah awal untuk kedepan supaya pemkab tegal lebih menghargai wisata sejarah dan budaya yang ada dikabupaten tegal, Selama ini kita membutuhkan Desa Kalisoka ketika akan memperingati hari jadi Kabupaten Tegal saja, ketika akan kirab pusaka. Atau ketika ada acara khaul Ki Ageng Purbaya dan Ki Ageng Hanggawana, selebihnya tidak. Pembangunan selama ini sama sekali tidak menyentuh sedikitpun tentang sejarah dan budaya bahkan arti penting keberadaan Desa Kalisoka sebagai cikal bakal Kabupaten Tegal selalu di lewatkan begitu saja.

Kita lihat Cirebon, Demak, Kudus atau Yogyakarta dan Surakarta. Disana sangat menjunjung tinggi nilai nilai sejarah.pemkabdisana menganggarkan sampai 400 juta untuk perkembangan wisatanya, Apakah kabupaten Tegal tidak bisa seperti mereka ?

Akankah impian ini bisa menjadi kenyataan ? Apakah 25, 50, atau 75 tahun lagi seperti yang tertulis diatas dapat terwujud ? sosok Bupati Luhur Budoyo dalam khayalan tersebut bisa menjelma dan mengejewantahkan impian Tegal sebagai daerah yang bisa memelihara sejarah dan budaya ?

Semua berpaling pada kita semua.

Salam !

Ditulis oleh: Wildan Hermawan

4,364 total views, 4 views today

  • Wildan Hermawan

    trims mas adit