Asal-usul Desa Rajegwesi, Kecamatan Pagerbarang

Pada abad ke-16 kira-kira tahun 1625, saat itu adipati Tegal masa pergantian dari Ki Gede Honggowono beralih ke P.A. Martoloyo * yang kebetulan masa-masa pergantian dengan sistem pemilihan yaitu beberapa senopati/adipati yang sengaja di kirim sebagai Kaladuta 1 (Benteng pertahanan untuk menghadapi walanda), oleh beliau Sultan Agung di pusat Mataram.

Setelah sedikit tentram di wilayah Tegal Sultan Agung, merupakan pemilihan Bupati diantaranya Adipati Rajegwesi dan P. A. Martoloyo ternyata setelah pemilihan berlangsung yang terpilih adalah pangeran Anom Martoloyo dan Adipati Rajegwesi yang berasal dari kadipaten pacitan mengubah namanya menjadi “Ki Ageng Petir”. Sebenarnya Ki Adipati Rajegwesi sendiri ditugaskan atau diangkat menjadi “Ki Mengku Demang”. Namun Ki Ageng Petir (Adipati Rajegwesi) tidak berkenan menerima jabatan mengkudemang setara dengan Wedono (Pembantu Bupati).

Ki Ageng Petir (Adipati Rajegwesi) memilih menjadi kraman atau berandal yang pada saat itu memang dengan bermodalkan ilmu kanuragan kasantosan (Aji Nyawa Rontek), yang mikir dengan “Aji Panca Sona, dan bernama Ki Ageng Petir”, memang benar-benar memiliki kekuatan seperti petir karena konon sempat diberi ilmu oleh Ki Ageng Selo yang konon bisa menangkap dan mengumpulkan tenaga petir di zaman demak bintara. Singkat cerita, sebenarnya nama “Desa Rajegwesi”, ada hubungan erat dengan nama “Slawi Ayu”, dalam bahasa jawanya berarti Slawe (Duapuluh Lima), yang sekarang menjadi pusat pemerintahan di Kabupaten Tegal.

Kembali ke asul-usul desa Rajegwesi pada zaman P. A. Martoloyo, Tegal merupakan kota yang tidak nyaman, Karena terganggu oleh sepak terjang P. A. Martoloyo mengadakan “ Giri Patemboyon”, ( Sayembara) yang isinya : “barang siapa mampu menangkapnya dalam keadaan hidup/mati, akan mendapatkan imbalan atau hadiah. Diantaranya : Menjadi putra menantu Bupati P. A. Martoloyo yaitu akan menikah dengan putrinya yang bersama Dyah Ayu Nimas Ronggeh **.

Setelah P. A. Martoloyo mengadakan sayembara tersebut banyak nagari/daerah (kadipaten), datang mengikuti sayembara tersebut. Nagari randu lawang (Brebes) dan lainya yang berjumlah duapuluh lima (asal-usul nama Slawi). Sejauh P. A. Martoloyo mengadakan sayembara tidak ada satupun yang mampu menangkap Ki Ageng Petir (Adipati Rajegwesi). Terkecuali ksatria dari Palembang yaitu Putra Prabu Sriwijaya yang bernama R. A. Tlampar Ranggono. Melalui pertunjukan “Ledhek atau Tayub”, (Pertunjukan Rakyat) yang diadakan untuk menjebak Ki Ageng Petir ( Adipati Rajegwesi), Para preman brandal, dan kraman. Namun setelah Ki Ageng Petir tertangkap, Kesaktiannya tidak ada satupun yang mampu untuk melindungi dan membunuhnya. Kemudian oleh temenggung juru nawon (Ajudan raja dari Mataram) mengusulkan untuk memotong-motong tubuh Ki Ageng Petir menjadi beberapa bagian yang kemudian harus dipisahkan ke beberapa tempat yang mempunyai aliran sungai dan sebelum dimakamkan potongan tubuh itu harus di ajang-ajang selama 7 hari lamanya. Salah satu anggota tubuh Ki Ageng Petir ada yang di buang ke tengah hutan (candi bandotan atau candi banditan). Dahulu, kepala Ki Ageng Petir sendiri dimakamkan ke wilayah Sendang Gayung yang kemudian di pagar menggunakan besi ( Rajegwesi).

Setelah kematian Ki Ageng Petir sendiri (Yang dipercaya menjadi awal terbentuknya nama desa Rajegwesi). Maka raja Mataram Sultan Agung Hanyakrowati bersabda “ Heeeh!!!!!……… Saputra wayah ku iki wis balik menyang asale”, (Adipati Rajegwesi sudah pulang ke asalnya). Dengan berkembangnya waktu dan zaman masyarakat Sendang Guyang sendiri itu menjadi sebuah dusun yang kemudian dikenal dengan nama Desa Rajegwesi (Asal Kepala Ki Ageng Petir yang terkubur dan dipagar menggunakan besi).

Penetapan nama Rajegwesi sendiri kira-kira pada tahun 1672 pada masa P. A. Martloyo hampir berakhir. Kami ingi tahu tentang awal pemerintahan yang ada di Desa Rajegwesi, setelah terbentuknya suatu wilayah hukum dalam masyarakat yang mempunyai batas-batas wilayah. Maka mulailah ada suatu bentuk tatanan keluarga pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

Namun mulai tahun 1672 sampai dengan sekitar tahun 1887 kami tidak mengetahui secara pasti siapa yang menjadi kepala desa atau kepala pemerintahannya. Setelah kami telusuri ke beberapa sumber dan narasumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bahwa kepala desa pada masa itu (1887) yaitu Bapak “ Suwargi Taham”.

Catatan:

* Dalam buku Babad Negari Tegal, setelah Raden Mas Honggowono, pemerintahan Tegal dipegang oleh Pangeran Purbaya/ Anggabaya, sorang keturunan dari Turki.

** Ahmad Hamam Rochani di dalam buku Babad Negari Tegal juga menuturkan mengenai asal muasal Slawi adalah sayembara untuk menebang pohon jati untuk membuat soko guru Masjid Kalisoka, 24 kesatria gagal dalam sayembara. Kesatria yang ke-25 (selawe), Anggabaya berhasil merobohkan pohon jati tersebut.

Sumber: faridulansor.blogspot.com

Penyusun: Bpk. Haryoto (KEPALA DESA RAJEGWESI )

Editor: TIM KKN POSDAYA UNIV. PANCASAKTI TEGAL 2012

2,841 total views, 1 views today

Related posts