Tegal 2008: Brandal Mas Cilik, Sebuah Pelajaran Memilih Pemimpin

Ada sebuah kisah menarik yang perlu diangkat kembali, kisah tersebut merupakan sebuah ide untuk membuat sebuah pertunjukan kolosal di Tegal. Iseng-iseng kami nge-twit ide tersebut (16 November 2014). Tak dinyana, ada seorang follower (¬†) yang menginfokan bahwa dulu memang pernah ada pementasan seperti itu dengan membawakan cerita Brandal Mas Cilik. Kami pun penasaran, kenapa ifo tersebut luput dari perhatian kami (memang saat itu belum ada @infotegal juga ūüėÄ ). Mulailah kami browsing dengan kata kunci “Brandal Mas Cilik”. Ada sebuah tulisan yang cukup menarik menurut kami, tulisan tersebut ada di Kompas tanggal 27 April 2008. Cukup lama, namun tetap menarik untuk disimak. Berikut isinya:

TEGAL, MINGGU –¬†Pemimpin yang baik adalah ketika orang hampir tidak sadar bahwa dia ada, pemimpin yang kurang baik adalah ketika rakyat mematuhi dan mengeluk-elukannya, pemimpin yang terburuk adalah ketika orang lain meremehkannya, dan pempimpin sejati mampu memuliakan orang yang dipimpinnya.

Yono Daryono, Tegal
Yono Daryono

Kalimat itu diucapkan oleh tokoh bijak bernama Panji, sebagai penutup pentas teater kolosal Brandal Mas Cilik, yang diselenggarakan di Alun-alun Kota Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (26/4). Ucapan itu menjadi inti dari cerita yang dipentaskan dan pelajaran bagi masyarakat dalam memilih pemimpin.

Pertunjukan Brandal Mas Cilik dilaksanakan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke-428 Kota Tegal. Pentas tersebut dimainkan oleh sekitar 150 orang. Selain melibatkan para pemain teater, pertunjukan itu juga melibatkan sejumlah penari, pejabat di lingkungan Pemkot Tegal, dan anggota DPRD Kota Tegal.

Brandal Mas Cilik merupakan cerita rakyat berlatar belakang sejarah pemerintahan Tegal tahun 1857. Dikisahkan bahwa saat itu Tegal dipimpin oleh seorang bupati bernama Reksonegoro VI dengan patihnya bernama Mas Rangga. Reksonegoro VI, yang sudah berusia uzur akhirnya meninggal dunia, sehingga terjadi kekosongan pemerintahan.

Sesuai adat yang berlaku, pengganti bupati seharusnya berasal dari anak Reksonegoro VI. Namun, saat itu, anak Reksonegoro VI, Mas Panggar, masih berusia balita. Mas Rangga merasa berhak untuk menggantikan posisi sebagai bupati, karena ia merupakan Patih Tegal.

Namun, ternyata, Belanda yang saat itu menguasai Jawa justru memilih orang lain untuk menduduki kursi bupati Tegal. Belanda mengangkat orang Pekalongan, Tumenggung Sosronegoro.

Mas Ranggapun marah. Ia berusaha menghancurkan kekuasaan Tumenggung Sosronegoro melalui berbagai pemberontokan dan kerusuhan. Meskipun demikian, ia tidak melakukannya sendiri. Mas Rangga menyuruh Brandal Mas Cilik, yang saat itu menjabat sebagai Lurah Randugunting.

Di tengah kekisruhan yang terjadi, Tumenggung Sosronegoro wafat karena usia tua. Belanda kemudian mengangkat Mas Rangga sebagai Bupati Tegal. Karena impiannya sudah tercapai, Mas Rangga akhirnya melupakan semua janjinya. Ia melupakan Brandal Mas Cilik. Mas Rangga justru berbalik membantu Belanda menumpas pemberontakan dan kerusuhan yang diciptakan Brandal Mas Cilik. Brandal mas Cilik pun akhirnya tewas sebagai tumbal dari perebutan kekuasan.

Sutradara sekaligus penulis naskah Brandal Mas Cilik, Yono Daryono mengatakan, cerita itu diharapkan menjadi pelajaran bagi masyarakat dalam memilih pemimpin. Tahun ini, masyarakat Kota Tegal akan mengadapi dua peristiwa pemilihan kepala daerah, yaitu pemilihan gubernur dan wali kota. Mereka seharusnya berkaca pada kisah Brandal Mas Cilik, sehingga tidak terjebak pada janji yang menyesatkan.

Pentas malam itu mendapat perhatian masyarakat. Ribuan orang hadir di alun-alun untuk menyaksikannya. Penonton juga diberi suguhan foto-foto sejarah tanam paksa zaman Belanda. Foto-foto tersebut ditampilkan secara bergantian di layar pementasan dengan teknonogi multimedia. Menurut Yono, kehadiran foto-foto itu juga dimaksudkan untuk memberi tahu penonton bahwa cerita Brandal Mas Cilik diadopsi dari sejarah tanam paksa di zaman Belanda. (Kompas)

Sumber: Kompas . Foto: Yono Daryono (FB).

1,496 total views, 1 views today