Menggagas City Branding untuk Kabupaten Tegal

Logo dari berbagai macam daerah. Sumber: Land Walker
Logo dari berbagai macam daerah. Sumber: Land Walker

Apa yang kalian pikirkan pertama kali ketika mendengar daerah Tegal? Kabupaten Tegal khususnya. Ada beberapa yang menyebutnya dengan Poci, Tahu, dan masih banyak lainnya. Semuanya hampir benar, namun apakah kita semua sudah yakin bahwa itu semua merupakan ciri khas dari Kabupaten Tegal sendiri? Orang lebih banyak mengenal Tegal sebagai Kota Tegal, sedangkan Kabupaten Tegal lebih dikenal dengan sebutan Slawi. Padahal jika ditarik dari historisnya, pada awal mulanya Kabupaten dan Kota Tegal merupakan satu-kesatuan, yaitu Kadipaten Tegal. Agak disayangkan memang, namun justru dari sinilah seharusnya kita sudah memikirkan sebuah branding agar Kabupaten Tegal juga dapat dengan mudah dikenali.

Setahun yang lalu, saat kami mengadakan Rembug Online Bareng Jawa Tengah atau disingkat ROB Jateng di Semarang dengan para peserta aktivis media sosial seperti Facebook, Twitter, Blogger, se-Jawa Tengah. Dalam sebuah sesi, ada pemateri yang membawakan tema City Branding. Dari sana, terbersit niat kami untuk memulai sebuah gagasan untuk menggagas kembali City Branding di Tegal. Menurut Mas Hafidullah, Marketing Director PT. Rwe Bhinda Jakarta (pemateri City Branding Semarang pada ROB Jateng), pada dasarnya City Branding itu terbagi menjadi dua jenis, yaitu organik dan non-organik. Organik sendiri terbentuk secara tidak sengaja atau merupakan identitas kota sejak dulu. Sedangkan non-organik sendiri dibentuk dengan sengaja. Kabupaten Tegal sendiri jika dilihat pada jenis organik, sudah mengakar kuat untuk ikon kota poci maupun tahu aci. Hal ini bisa kita lihat dengan banyaknya patung poci tanah liat secara tanpa kita sadari sudah disematkan dibeberapa logo-logo komunitas. Secara historis juga Kabupaten Tegal menjadi awal perkembangan industri teh yang ada di tanah air, yaitu dengan lahirnya Sosro, salah satu perusahaan teh besar di Indonesia.

Menurut Van Gelder (2003) dari laman MoncyArt, persyaratan suatu city brand tidak jauh dari persyaratan merek atau branding pada umumnya, yaitu:
  • City brand harus menunjukkan kondisi kualitas dari kota atau daerah yang sebenarnya. City brand pada kenyataannya bukan merupakan cita-cita atau visi semata-mata yang ingin dicapai, tetapi adalah kenyataan yang sebenarnya yang menggambarkan kondisi kota tersebut. City brand juga bukan pula merupakan semata-mata suatu janji, tetapi adalah janji yang ditetapi ketika orang tinggal, hidup, menetap atau sekedar berkunjung ke dalam suatu kota.
  • City branding memaparkan sesuatu yang baik dari kota. Bukan menjelaskan kekurangan atau sisi buruk dari kota tersebut.
  • City brand harus mudah diucapkan, dikenal. diingat, dijiwai, dihayati dan dipahami oleh tidak hanya penduduk kota, tetapi juga bagi setiap orang yang melihat, membaca dan mendengarnya.
  • City brand harus mudah terbedakan, oleh karena itu harus spesifik dan khas.
  • City brand harus mudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris harus menggambarkan pengertian yang sama dan identik, sehingga tidak membingungkan orang yang mengetahuinya.
  • City brand harus bisa memperoleh hak untuk didaftarkan dan mendapat perlindungan hukum.
 Poci sendiri sudah menjadi ikon tersendiri bagi warga Tegal. Ikon yang tanpa disadari menjadi sebuah branding bagi Tegal pada umumnya.

Di Solo kita mengenal Solo sebagai Spirit of Java, Jogja: Never Ending Asia, Pekalongan world’s of city of Batik, Sparkling Surabaya, Enjoy Jakarta, dan lain sebagainya. Mereka sudah mempersiapkan diri sejak lama, bahkan akhir-akhir ini kita mendengar juga bahwa Semarang juga sedang membangun kembali City Branding-nya, Jogja Darurat Logo. Apakah Kabupaten Tegal diam saja? Tidak! Setelah kami telusuri, ada sebuah artikel menarik mengenai gagasan City Branding bagi Kabupaten Tegal, namun tentu saja hanya berbeda istilah. Sebut saja Febrie Hastiyanto dengan esainya yang berjudul “Membangun Identitas Slawi” di tahun 2010. Beliau mencoba mencari ikon dari Kabupaten Tegal dilihat dari segi historisnya. Ada juga artikel dari Bapak Toto Subandriyo yang dimuat di Surat Kabar Suara Merdeka pada Juni 2013 dengan judul “Pemanfaatan Ikon Slawi” yang membahas pembangunan-pembangunan yang ada di Kabupaten Tegal yang mengarah pada City Branding. Keduanya merupakan segelintir orang yang sudah haus akan identitas Kabupaten Tegal. Sebuah identitas yang sangat perlu dicanangkan untuk mempermudah promosi sebuah daerah.

Penggunaan tagline Slawi Ayu mungkin juga sudah tidak pas disematkan di Kabupaten Tegal, karena banyak yang mempertanyakan maksud dari “AYU” tersebut. Namun penggunaan Slawi Ayu juga patut diacungi jempol, karena merupakan sebuah awal pembentukan City Branding. Namun masih kurang efektif.

Dari sana kami tergelitik untuk mencoba membuat survey sederhana mulai dari apa yang pantas menjadi ikon dari Kabupaten Tegal ada yang menjawab ponggol, kacang bogares, tahu aci, poci, dan sebagainya. Namun mayoritas menjawabnya dengan Poci. Survey pun berlanjut mengenai adanya tokoh Lupit Slentheng yang kabarnya akan menjadi ikon Kabupaten Tegal. Ada komentar menarik dari teman-teman yang ada di grup Sisi Lain Kabupaten Tegal (SLKT) rata-rata berkomentar tidak setuju karena tidak sesuai dengan karakter masyarakat Kabupaten Tegal. Jadi memang tidak mudah membangun kepercayaan warga dengan sebuah ikon kota.

Lalu Apa yang Harus Dipersiapkan?

Landmark Kabupaten Tegal
Salah satu Landmark Kabupaten Tegal

Masih menurut pandangan Mas Hafidullah, langkah yang harus dipersiapkan dalam membangun sebuah City Branding adalah:

1. Define Clear Objective

Apa sih yang ingin dicapai dari pembangunan sebuah City Branding? Salah satunya adalah membangun sebuah persepsi daerah Kabupaten Tegal dan hal-hal yang nantinya akan membuat orang menarik untuk datang ke Kabupaten Tegal.

2. Understanding Target Audience

Maksudnya adalah siapakah audiens yang akan disasar? Dari internal bisa dari warga dan Pemerintah Daerah Kabupaten Tegal. Untuk eksternalnya adalah investor dan wisatawan. Jika target utama adalah wisatawan, maka kita harus mengetahui apa yang diinginkan oleh wisatawan jika berkunjung ke Kabupaten Tegal.

3. Identify Current Assets

Mengindentifikasi dan menelaah apa saja kelemahan maupun kekuatan dari Kabupaten Tegal sendiri melalui analisis SWOT.

a. Strengths

  • Lokasi yang sangat strategis karena termasuk dalam jalur Pantura dan jalur penghubung Tegal – Purwokerto.
  • Banyaknya kuliner yang berkembang, mulai dari jenisnya hingga pusat penjualannya.
  • Banyaknya komunitas-komunitas yang aktif seperti di media sosial.
  • Memiliki pusat industri strategis seperti teh, logam, alat rumah tangga, kerajinan batik, produsen melati, dan lain-lain.
  • Memiliki pemimpin baru (Bupati dan Wakil Bupati).

b. Weakness

  • Belum lengkapnya fasilitas publik. Contohnya seperti jumlah angkutan umum yang masih minim yang menuju ke lokasi wisata.
  • Kurangnya kesadaran masyarakat akan ketertiban, kebersihan, dan keindahan.
  • Kurangnya penunjuk arah ke lokasi-lokasi wisata baik wisata alam maupun kuliner.
  • Masih kurangnya rasa “memiliki” untuk saling membangun Kabupaten Tegal.
  • Kabupaten Tegal belum memiliki land mark yang pas.

c. Opportunities

  • Banyaknya alternatif tempat wisata baru.
  • Semedo mulai dikenal khalayak luas.
  • Tanpa banyak orang tau, ternyata PG Pangka dan Semedo sering kedatangan tamu-tamu dari luar negeri untuk mempelajari mesin-mesin dan situs purbakala.
  • Bisnis travel agent di Tegal juga sudah mulai berkembang pesat.
  • Pembangunan Museum Semedo bisa menjadi sebuah titik awal kedatangan wisatawan dan para peneliti dari dalam maupun luar negeri.
  • Banyak wisatawan menginginkan lokasi wisata yang baru yang mungkin belum mereka jelajahi.
  • Sedikit demi sedikit Pemkab Tegal mulai membangun kawasan kuliner. Seperti Trasa, Martabak Lebaksiu, Kacang Bogares, dll.

d. Threats

  • Mulai banyak pembangunan dalam bidang perhotelan, maupun wisata alam baru.
  • Pusat rekreasi dan hiburan di daerah tetangga sudah mulai ramai di datangi pengunjung.
  • Pembangunan jalan tol Pejagan – Pemalang sudah mulai dibangun yang berarti posisi Tegal menjadi kurang strategis lagi.

4. Develop The Positioning

Sebelum membuat sebuah identitas kota, sebaiknya tentukan dulu apa sih yang membuat Kabupaten Tegal itu berbeda dengan daerah lain? Selain Kabupaten Tegal punya kuliner khas tersendiri, wisata alam di Kabupaten Tegal juga patut diacungi jempol.

5. Set The Aspirational Brand Identity

Pada langkah ini merupakan langkah lanjutan dari langkah sebelumnya, dimana brand identity tersebut divisualisasikan baik dengan penggunaan logo maupun tagline. Penggunaan tagline pada sebuah produk memang sangat perlu. Paling efektif apabila sebuah tagline terdiri dari dua hingga tiga buah kata. Lihat saja perusahaan-perusahaan besar seperti Toshiba, Yamaha, Honda, Aqua, dan masih banyak lagi. Bahkan tagline untuk city branding pun sudah menggunakan konsep tersebut.

Penggunaan logo juga harus memperhatikan jenis huruf dan warna yang digunakan. Karena setiap huruf dan warna memiliki arti tersendiri. Ada juga tambahan gambar yang menjadi ikon sebuah kota. mari kita lihat logo dari Enjoy Jakarta, terlihat ada tugu monas di sela-sela tulisan Enjoy dan Jakarta.

Pada penulisan nama kota dan tagline-nya pun ukuran hurufnya dibedakan. Untuk nama sebuah kota menggunakan ukuran huruf yang lebih besar. Hal ini berfungsi untuk mempertegas merk utama dari sebuah produk, yang dalam hal ini adalah sebuah kota.

6. Execute The Brand Strategy

Jika sudah mendapatkan sebuah logo dan tagline, lalu menggabungkan dari fitur, identitas, even, spot area, bangunan, dan orang-orangnya yang nantinya bisa dieksekusi menjadi konten marketing. Adapun selain itu, ada banyak media yang bisa materi pemasaran sebuah kota.

MEDIA SUPPORTING CHANNEL
Media Supporting Channel oleh Mas Hafidullah

7. Measure Success

Yang terakhir, intinya adalah melaksanakan semua langkah-langkah tersebut. Jika memang ada kesulitan, tidak ada salahnya kita melakukan study ke daerah yang sudah sukses dengan city branding-nya. Atau mengundang pemateri yang menguasai bidang tersebut.

Dari langkah-langkah tersebut, banyak yang memberi ide City Branding Kabupaten Tegal dengan tag line seperti:

  • Negeri 1000 Wayang, hal ini berkaitan erat dengan BUpati Tegal yang merupakan seorang dalang yang memiliki banyak sekali koleksi wayang.
  • Negeri Poci. Ini karena di Kabupaten Tegal sendiri terkenal dengan produksi tehnya dan banyaknya ikon poci hampir di semua ruang publik.
  • Ada yang mau menambahkan lagi??

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Banyak yang mengira urusan City Branding merupakan urusan pemerintah, buat apa kita turut campur? Toh kita masih tetap bisa makan. Tidak,,, bukan seperti itu, pernah terbayangkan tidak ketika daerah kita sendiri terkenal? Pembangunan di daerah menjadi lebih cepat, banyak UMKM yang meraup laba lebih, produk-produk lokal bisa dipasarkan ke luar daerah bahkan ke luar negeri, kita pun nantinya secara tidak akan langsung akan merasakan dampaknya secara tidak langsung.

Perlu kita ketahui bersama, pembangunan City Branding di kota-kota lain melibatkan banyak kalangan. Tidak melulu dari pemerintah setempat, tapi juga dari tokoh masyarakat, seniman, budayawan, aktivis media sosial, organisasi-orgasisasi, dan orang-orang yang berkompeten lainnya seperti yang memiliki kompetensi dalam pembangunan tata kota, ilmu pemasaran, dan filsafat. Cukup komplek bukan? Semuanya campur baur menuangkan ide bersama-sama. Tak  hanya itu saja, bukan tidak mungkin juga diadakanya sayembara untuk pembuatan logo maupun tagline sebuah kota.

Sekecil apapun ide kita, tentunya akan sangat bermanfaat demi kemajuan Kabupaten Tegal. Hampir semua kota sudah mulai berbenah, sudah saatnya Kabupaten Tegal juga ikut berbenah!

Jadi sudah mendapat ide yang cocok untuk City Branding Kabupaten Tegal? Bisa kirimkan ide dan sarannya via form online kami di sini.

Sumber Gambar Logo Kota: Land Walker, Materi City Branding di Whizisme.

4,749 total views, 4 views today