Sejarah Tuk Jimat Bumijawa, Kabupaten Tegal

Tuk Jimat BUmijawaSyahdan, Mbah Cimuluk sedang mencari ranting kayu. Tetua Kampung Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah, itu melihat seekor bangau putih mematukkan paruh di tanah. Permandangan ini menyita perhatiannya. Ia yakin bangau itu tengah mencari air yang kala itu amat sulit ditemukan di daerah itu. Tak dinyana, di balik paruh bangau ditemukan sebuah bende (gong kecil). Mbah Cimuluk lalu membuka bende itu. Tiba-tiba mengalir air tanah dengan derasnya. Itulah Tuk Jimat (mata air jimat). Sejak mata air itu ditemukan pada 1918 hingga kini kisah itu terus hidup dalam benak warga Bumijawa.

Terletak di lereng Gunung Slamet, Jateng, sumber mata air ini tak pernah berhenti mengalir sepanjang tahun. Airnya jernih dan bening. Sebuah bangunan kokoh tampak berdiri menaunginya. Bangunan itu didirikan saat Belanda menjajah Indonesia. Pemerintah Hindia Belanda ikut memanfaatkan aliran air itu. Kini, telah lewat sepuluh windu sejak air itu ditemukan.

Air ini tak hanya berjasa buat warga Bumijawa, namun juga buat masyarakat Tegal umumnya. Sumber air dimanfaatkan perusahaan air minum daerah setempat untuk keperluan warga Tegal. Buat warga setempat, Tuk Jimat seperti air suci. Mereka meminum langsung air ini tanpa dimasak. Penduduk yakin, Tuk Jimat membuat hasil pertanian dan kehidupan Kampung Bumijawa berlimpah tiap tahun.

Sementara itu jasa Mbah Cimuluk sebagai penemu mata air itu terus dikenang. Masyarakat berziarah ke makamnya yang terletak di tepi sumber air pada 10 Rabiulawal silam (sehari sebelum Maulid Nabi Muhammad SAW). Dipilihnya tanggal itu bukan tanpa alasan. Sebab, mata air itu ditemukan bersamaan dengan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Walau malam itu hujan turun lebat, warga tetap ke makam Mbah Cimuluk. Bunga ditaburkan di pusat sumber air, tempat pertama kali Mbah Cimuluk menggali tanah. Sambil menabur bunga, Siswoyo, keturunan ketiga Mbah Cimuluk, memimpin doa di hadapan makam. Siswoyo memohon acara Maulid Nabi yang akan digelar besok berjalan lancar. Usai berziarah, perjalanan dilanjutkan. Mereka menuju sumber air Tuk Jimat. Selesai ritual permohonan, warga beranjak pulang.

Masyarakat tak hanya mengingat Mbah Cimuluk. Adapun bende peninggalan Mbah Cimuluk tak dilupakan. Gong itu dianggap bukan benda sembarangan. Konon, sewaktu Mbah Cimuluk masih hidup, dia sempat berpesan. Bende berukuran 30 sentimeter harus dimandikan tiap 10 Rabiulawal. Perayaan pemandian itu menjadi tradisi besar warga setempat. Perayaan itu tak hanya melibatkan orang tua, namun juga anak-anak. Meski pencucian gong diadakan tiap tahun, antusiasme warga tak berkurang.

Sejak pagi hari, mereka telah bersiap-siap mengikuti upacara itu. Mereka berdesakan masuk ke lokasi Tuk Jimat. Warga ingin menyaksikan sendiri pencucian bende bersejarah itu. Siswoyo memulai ritual. Di atas api dan kemenyan yang dibakar, bende keramat itu dimandikan. Selesai dimandikan, pensucian bende usai. Sesuai kepercayaan masyarakat, mereka berebut mengambil air bekas cucian. Air itu diyakini warga dapat mengobati berbagai penyakit.

Setelah itu, warga bersama-sama menikmati tumpeng dari hasil pertanian kawasan itu. Gong keramat diarak pulang untuk disucikan kembali tahun depan. Untuk menghibur warga, dipertunjukkan atraksi kuda lumping. Laksana orang kesurupan, kuda lumping memakan apa saja yang terlihat di depannya. Inilah hiburan khas daerah itu yang mungkin hanya dinikmati rakyatnya setahun sekali.

Saat Maulid Nabi digelar, suasana kampung terasa meriah hingga malam hari. Seluruh warga tumpah ruah ke jalan. Mereka ingin menyaksikan pawai akbar. Bende keramat turut diarak. Pawai juga menampilkan berbagai ornamen yang menggambarkan kisah kelahiran Nabi. Warga berharap, perjalanan hidup Rasul bisa menjadi teladan.

Bersamaan pemandian bende, diadakan acara sunatan massal. Khitanan yang diadakan sejak puluhan tahun silam itu dilakukan setelah bende selesai dicuci. Acara ini sengaja dilakukan untuk membantu keluarga tak mampu. Walau hanya warga tak mampu yang menjadi peserta, tapi acara sunatan ala Bumijawa ini selalu meriah. Sepanjang jalan, warga mengelu-elukan para pengantin sunat.

Arak-arakan pengantin sunat biasanya berakhir di pusat kesehatan masyarakat di daerah itu. Di puskesmas, para bocah cilik disunat sesuai sunah Nabi. Salah satu peserta sunatan adalah Kobul dan Mudi. Kedua bocah lelaki ini ikut mengantre menunggu giliran. Meski sempat merasa kesakitan, baik Kobul dan Mudi tetap tertawa riang. Kobul dan Mudi sebelumnya tak pernah membayangkan menjadi pengantin sunat. Apalagi diarak dan diantar orang sekampung bak raja sehari. Impian kedua bocah cilik itu dapat terkabul.(MAK/Lita Hariyani dan Anambo Tono)

Sumber: Liputan6.com

5,557 total views, 14 views today