Filosofi Tiga Bagian Pura Segara Suci di Kota Tegal

Pura Segara Suci TegalTak banyak yang mengenal pura ini, karena letaknya jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota. Pura Segara Suci, diambil dari tanah tempatnya berdiri yang dekat dengan laut utara Pulau Jawa, tepatnya di Jalan Batam Nomor 80, RT 01 RW 08, Kelurahan Mintaragen, Kota Tegal.

Selain digunakan untuk ibadah umat Hindu, tempat ini juga menjadi Sekretariat Parisada Hindu Darma Indonesia Kota Tegal.

Menurut Juliono (30) warga yang tempat tinggalnya bersebelahan dengan pura, saat Hari Raya Nyepi pura ini ramai dikunjungi umat Hindu yang datang dari Kota Tegal dan sekitarnya.

Sementara Mulyadi, guru yang sudah bertugas selama 14 tahun di pura ini menceritakan jika pura tersebut sudah ada sejak 1986.

“Toleransi beragama di sini sangat baik, warga Muslim dan umat Hindu bertetangga dengan rukun,” katanya.

Dengan luas total bangunan 1.400 meter persegi, yang menarik dari pura ini adalah perpaduan arsitektur Bali dan Jawa yang menonjolkan Kori Agung motif Majapahit.

Di dalam pura juga terdapat semacam bangunan untuk pertemuan umum.

Pura Segara Suci TegalMulyadi menuturkan, ada sumur dalam pura ini yang dipakai untuk pembersihan diri yang konon katanya dijaga Dewi Gangga dari India. Karena itu, sumur ini tidak dipakai untuk umum.

Bangunan pura dibagi menjadi tiga bagian, pejaban, panengah, dan pajeroan. Pejaban adalah bagian luar pura, panengah adalah bagian tengah, sedangkan pajeroan khusus untuk melakukan sembahyang dan meditasi.

Nyoman Sidjana, Ketua Parisada Hindu Darma Kota Tegal turut menjelaskan filosofi yang ada di dalam pura. “Dimulai dari pejaban, pintu masuk berupa dua saka dwibineda, dwi artinya dua, bineda artinya beda atau dua yang berbeda. Ini melambangkan positif dan negatif. Mempunyai makna, beribadahlah sebelum kamu dipanggil Sang Khalik,” terangnya.

Dwibineda juga berarti keseimbangan, yang jika diimplikasikan dalam perbuatan ibadah, artinya dalam hidup kita mengingat suatu saat akan mati. Masuk ke panengah, kita diajak untuk berkonsentrasi. Pada pajero, Kori Agung, melambangkan dua yang berpisah menjadi satu, memusatkan pikiran untuk menghadap Sang Khalik. (dna/wan)

Sumber: Radar Tegal 23 Januari 2015

2,600 total views, 2 views today