Komunitas Wayang Pring Jelajah Sekolah SMPN 1 Bojong, Tegal

KIDUNG PAMUNGKAS RAMA BHARGAWA

Oleh:
Komunitas Wayang Pring Tegal
Dalang:
Ki Sri Widodo Gunawan

Selasa, 19 Mei 2015 / Jam 09.00 WIB
Di Halaman SMP N 1 BOJONG – KAB. TEGAL

22 Mei 2015 / Jam 18.00 WIB
GUNUNGAN INTERNATIONAL MASKS & PUPPETS FESTIVAL
Bale Pare, Kota Baru, Parahyangan, Bandung

Kesepian-pun terusir ketika terlantun kidung-kidung yang menegarkan, do’a harapan bagi putranya kelak menjadi  orang yang tangguh, tegas dan berprinsip kuat.  Dari Ibu Renuka,  do’a dan harapan itu senantiasa hadir dalam hidup Rama Bhargawa, ya Sang Ramaparasu.

Sorot matanya yang tajam, tubuhnya yang tegap, rambutnya yang panjang mengurai menjadikan Bhargawa sosok pemuda yang angker dan disegani di kerajaan Maespati.  Busur besar dan kapak yang senantiasa dibawa semakin menegaskan kecerdasan, kewaskitaan dan ketegasan yang Bhargawa miliki sebagai seorang keturunan maharesi Jamadagni.  Oleh rakyat di kerajaan Maespati Bhargawa dikenal mampu menyelesaikan masalah dengan baik  layaknya seorang Hakim Agung yang jujur, tegas,bijak dan adil.

Suatu ketika, Ibu Renuka sedang diperbincangkan oleh kalangan umum di Maespati. Renuka dikabarkan selingkuh ketika Maharesi Jamadagni tekun menjalani tapa bratanya. Ya, Renuka telah terjebak oleh politik cinta asmaragama Prabu Citrarata. Kabar berita perselingkuhan Renukapun semakin menyebar dan melebar hingga membingungkan banyak warga. Beberapa kalangan memaklumi apa yang dilakukan Renuka, karena Resi Jamadagmi hanya mementingkan tapa bratanya, namun tak sedikit warga yang mengecam dan menghendaki Renuka dihukum pancung. Tak jelas apa yang sebenarnya terjadi hanya Ibu Renuka yang bisa menjawab.

Resi Jamadagni masygul dengan apa yang sedang menimpa keluarganya. Sementara tuntutan warga Maespati untuk segera menyelesaikan aib tersebut semakin kuat.

Resi Jamadagni memanggil keempat putranya, termasuk si sulung Rama Bhargawa. Resi Jamadagni meminta agar salah satu dari putranya bisa memimpin persidangan rakyat untuk mengadili Ibu Renuka, dan jika memang terbukti ibu Renuka berselingkuh maka kepalanya meski dipenggal di hadapan warga kerajaan Maespati. Ketiga kakaknya sontak lemas dan tertunduk, dimana ada sorang anak mampu memenggal kepala ibu kandungnya?

Hanya Bhargawa yang masih tegap diposisinya. Matanya memandang dalam wajah Jamadagni yang semakin menua, sementara telinganya terngiang kidung-kidung yang senantiasa Ibu Renuka dendangkan untuknya, silih berganti dengan sumpah serapah, hardik, menuntut agar Renuka diadili atas aib yang disangkakan kepadanya.

Ibu Renuka dalam pengadilan dinyatakan berselingkuh, dan Maharesi Jamadagni memerintahkan Bhargawa menuntaskan tugasnya.  Dengan kapaknya sendiri Rama Bhargawa memenggal kepala ibunya.

Di akhir kisah ini akan menyisakan 4 permintaan yang dijanjikan oleh Maharesi Jamadagni, yang akan melibatkan penonton untuk mengajukan permohonannya.

Dalam konteks jaman saat ini, kisah Ibu Renuka bisa terjadi pada siapapun baik individual bahkan dalam kehidupan berbangsa bernegara. Siapa mematikan siapa yang notabene adalah masih dalam garis keturunan kepentingan.  Ketika “perselingkuhan’” terjadi maka tak perduli lagi siapa melahirkan siapa, yang ada adalah penegakan hegemoni kehormatan dan kekuasaan. Bangsa ini butuh sikap seperti Rama Bhargawa yang adil, tegas tak pandang bulu, bijak namun solutif

Komunitas Wayang Pring

Terselenggara berkat kerjasama: YAYASAN RUMAH EMPU & SMP N 1 BOJONG KAB. TEGAL

Kontak informasi: Honggo Utomo : 082141319468

1,017 total views, 1 views today