Kisah Ki Gede Sebayu, Sayembarakan Puteri Cantik Demi Masjid

Makam Ki Gede Sebayu

Indonesia punya cerita sejarah panjang nan unik dan pantas diketahui. Dari sejarah perjuangan bangsa hingga ke sejarah para raja nusantara. Ada salah satu tradisi yang mungkin sekarang ini sudah berubah kata menjadi kuis atau undian, dahulu kala, di zaman para raja, hadiah disebut juga dengan kata sayembara.

Banyak sekali cerita sejarah para raja yang menyaimbarakan sesuatu hal kepada rakyatnya. Dari ribuan sayembara yang pernah digelar ada satu sayembara yang unik dan mungkin baru pertama kali itu saja digelar. Sayembara unik itu digelar di Tegal, Jawa Tengah pada sekitar tahun 1580. Sang penggelar sayembara adalah toko pendiri Tegal, Ki Gede Sebayu.

Seyembara itu berbunyi “Sapa-sapa satriya sing bisa negor wit jati nganti bisa rubuh, bakal dak tampa dadi jodhone anakku”.

Anak yang dimaksud anak dalam sayembara bukan sembarang anak, dia adalah seorang putri nan cantik jelita. Puteri itu bernama Raden Ayu Siti Giyanti Subalaksana. Yang artinya, barang siapa satria yang bisa menebang pohon jati sampai roboh, bakal saya terima menjadi jodohnya anakku, Raden Ayu Siti Giyanti Subalaksana. Sayembara itu diumumkan ke seluruh pelosok Pulau Jawa tanpa terkecuali.

Sayembarakan Putri Cantik Demi Masjid

Ki Gede Sebayu begitu teganya mempertaruhkan putrinya yang cantik hanya demi menebang pohon jati raksasa itu bukan karena benci pada anaknya ataupun hanya ingin melepas anaknya agar dinikahkan. Ki Gede Sebayu dengan ikhlas menghadiahkan putri tercintanya hanya demi mendapatkan kayu dari pohon jati itu untuk dijadikan sakaguru bagi Masjid Agung Kalisoka.

Singkat cerita, maka sejak sayembara diumumkan banyaklah para ksatria yang berdatangan untuk unjuk kesaktian guna menebang pohon jati yang dimaksudkan Ki Gede Sebayu. Satu persatu para ksatria tangguh dan perkasa berusaha merobohkan pohon jati itu. Namun, tak seorang pun dari mereka yang mampu menumbangkannya.

Pada saat semua orang hampir putus asa, datanglah seorang pemuda. Ia bernama Ki Jadhug yang mengaku dari Dukuh Sigeblag, Desa Slarang Kidul,  Kecamatan Lebaksiu. Konon Ki Jadhug adalah Jaka Umbaran atau Panembahan Purubaya ketika muda. Putra sulung Panembahan Senapati ing Alaga Mataram ini sedang melaksanakan kewajiban ksatria Jawa untuk lelana. Yakni berkelana demi menajamkan hati dan pikiran. Ki Jadhug mengikuti sayembara akbar tersebut. Dengan susah payah, beliau berhasil juga melaksanakan amanat Ki Gede.

Ia mencabut pohon jati tersebut hingga akar-akarnya ke permukaan tanah. Dan ketika sang pohon jati tercabut, semua khalayak menyaksikan angin kencang yang membantu Ki Jadhug.

“Pekik tahmid dan takbir dari Ki Gede Sebayu mengiringi robohnya sang pohon jati. Akhirnya Panembahan Purbaya menikah dengan puteri Ki Gede Sebayu,” jelas Aziz Hidayatullah, Budayawan dari Slawi, Kabupaten Tegal.

Diuraikan Aziz, kisah itu melegenda di masyarakat Tegal. Dijelaskannya bahwa Tegal merupakan penjelmaan dari sebuah desa yang bernama “Teteguall” termasuk wilayah Kabupaten Pemalang yang mengakui Kerajaan Pajang. 

Ada beberapa sumber mengatakan sebutan teteguall  diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500 –an (Suputro, 1955). 

Artinya yang memiliki arti tanah subur  yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984).

Ki Gede Sebayu Trah Majapahit

Sejarah Tegal tidak lepas dari ketokohan  Ki Gede Sebayu. Namanya dikaitkan dengan trah Majapahit, karena sang ayah Ki Gede Tepus Rumput (kelak bernama Pangeran Onje) ialah keturunan Batara Katong Adipati Ponorogo yang masih punya kaitan dengan keturunan dinasti Majapahit. Ia melepas atribut kebangsawanannya dan mengembara sampai sebuah daerah penuh ilalang, padang rumput luas dengan sungai yang dialiri air yang bening sampai muara laut. Sungai itu adalah sungai Gung (Kali Gung). Sungai ini dinamakan Kali Gung sebab bersinggungan dengan mata air yang berasal dari Gunung Agung yakni sebuah nama kuno dari Gunung Slamet dan bermuara ke utara hingga laut Jawa.

“Diajaknya warga setempat membabat alang-alang agar jadi tegalan. Selain itu, dia juga membuat bendungan di hulu sungai daerah Danawarih untuk dijadikan sumber air irigasi,” kata Maqod, juru kunci makam Ki Gede Sebayu.

Kesaksian ini diperkuat dengan ditemukannya artefak kuno dan candi di desa Pedagangan. Ditambah tlatah Tegal kerap kali dikaitkan dengan kerajaan Pajang dan Mataram Islam yang cenderung kekuasaan dengan basis pada agraris ( De Graaf, 1986).

Pangeran Benowo diangkat menjadi raja Pajang. Dia membutuhkan sepupunya. 

Sebayu, untuk menjadi patih. Dia pun mengutus sejumlah prajurit untuk mencari Sebayu. Di Desa Teteguall, tempat Sebayu bermukim, sepupu Benowo itu ditemukan. Namun, karena Sebayu tidak mungkin meninggalkan rakyat Teteguall, karena alasan tersebut Pangeran Benowo melantik dia menjadi juru demang atau sesepuh Desa Teteguall. 

Anugerah sebagai sesepuh desa diberikan pada malam Jumat Kliwon, 15 Sapar Tahun 988 Hijriah, atau tahun 588 ehe. Waktu itu bertepatan dengan 12 April 1580 Masehi. Pengangkatan Ki Gede Sebayu menjadi Pemimpin pertama Tegal dilaksanakan pada perayaan tradisional setelah menikmati hasil panen padi dan hasil pertanian lainnya. Hari, tanggal dan tahun Ki Gede Sebayu diangkat menjadi Juru Demung (Bupati) itu ditetapkan sebagai hari jadi Kota Tegal dengan peraturan Daerah No.5 tahun 1988 tanggal 28 Juli 1988.

Ditulis oleh: Bayu Adi Wicaksono, Dody Handoko. Viva News

7,269 total views, 5 views today

Related posts