Tegal, Sebuah Kota Tanpa Masa Lalu

Tegal Stad. Evolusi Sebuah KotaJudul tulisan tersebut barangkali semua orang sepakat akan mengatakan, tidak mungkin sebuah kota tanpa masa lalu. Tetapi itulah kenyataannya, setidaknya muncul dalam pikiran saya. Tegal tanpa catatan tentang masa lalu, miskin artefak, dokumen, atau literature yang mengungkap sejarahnya.. Kita hanya mendapatkan buku Suputro yang pernah menjabat sebagai Walikota Tegal : Tegal Dari Masa Ke Masa. Walaupun di sana-sini buku tersebut masih perlu kajian lebih mendalam, namun kerapkali menjadi rujukan.

Sungguh ironis bila benar Tegal menjadi kota tanpa masa lalu, tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan berikutnya. Peristiwa sejarah bukan hanya kejadian fisik, melainkan peristiwa bermakna yang terpantul sepanjang waktu, sehingga dapat terungkap segi-segi pertumbuhan, kejayaan, dan keruntuhannya (Poespowardojo, 1992:1).

Sejarah identik dengan peradaban manusia, dan pemahaman atas sejarah berarti juga pemahaman kebudayaan. Kita tidak ingin menjadi Sangkuriang yang tidak tahu bahwa ia telah membunuh bapaknya. Bersikeras mengawini Dayang Sumbi ibunya sendiri hanya karena kecantikannya.

Hampir semua kota di Nusantara ini dibangun mengacu pada sejarah masa lalu, tidak sedikit pula diilhami oleh mitos-mitos. Selain kisah Sangkuriang dan Dayang Sumbi, di Jawa kita juga mengenal kisah Lara Jonggrang atau biasa disebut Durga Mahisasuramardini. Lara Jonggrang sebuah legenda atau cerita rakyat yang ingin menjelaskan adanya Candi Prambanan di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Cerita ini berdasarkan arca Dewi Durga yang ditemukan di desa Prambanan. Dari sini muncul lingkungan Prambanan yang cukup melegenda selain kota Yogyakarta itu sendiri.

Lalu dimana posisi Tegal diantara kisah-kisah yang melegenda. Kita hanya kenal epos Martoloyo-Martopuro yang lebih sering diungkapkan lewat pertarungan mereka. Kita lupa apa yang diperbuat oleh mereka, dan para pelaku sejarah lainya. Faktor manusia dalam perspektif sejarah sangatlah esensial, karena berdasarakan kesadarannya menusia meliki nilai historisitas, yakni selalu berkembang dalam rangka merealisasikan dirinya secara kongkrit (Dudung Abdurahman, 2007: 13).

Kapan Tegal memiliki catatan sejarah yang dapat menjadi pijakan sekaligus menerbitkan rasa banga warganya. Pertanyaan itu terus muncul dalam benak saya. Telah banyak sejarawan atau peneliti asing menulis tentang Tegal dari sudut pandang mereka,. Namun sedikit orang Indonesia menyinggung tentang Tegal dalam kajian sejarahnya. apalagi orang Tegal menulis sejarah Tegal. Atau memang Tegal kurang layak dicatat dalam sejarah. Barangkali para sejarawan itu bukan tidak ingin menulis sejarah Tegal, tetapi belum mendapatkan literature yang mendukung kalau Tegal layak ditulis dalam sejarah, apalagi sejarah kota Tegalnya.

Pada umumnya, kita dapat melihat bahwa perkembangan kota-kota modern banyak dibentuk berdasarkan warisan sejarah masa sebelumnya. Dalam kajian tentang masalah perkotaan, beberapa aspek penting yang memainkan peranan penting adalah keadaan demografi, teknologi, organisasi, dan lingkungan. Dengan demikian aspek-aspek itu penting untuk dipahami, karena adanya faktor yang saling kait mengkait.

Dalam dinamika sejarahnya, banyak kota-kota itu terlahir sebagai akibat pusat-pusat politik tradisional seperti pusat-pusat istana kerajaan, pusat-pusat perkembangan perdagangan seperti di daerah pegunungan, demikian pula di pelabuhan atau wilayah pesisir pantai. Dalam perkembangan selanjutnya tampaknya terjadi pergeseran pusat-pusat perdagangan dari pegunungan ke pantai. Perpindahan itu seringkali terjadi karena dinamika politik, di pedalaman sebagai akibat perkembangan politik di tingkat internal maupun eksternal.

Begitu berpengaruhnya ekspansi Mataram ke Batavia terhadap Tegal. Demikian pula ”hijrahnya” Amangkurat I ke Tegal sampai meninggal dan dimakamkan di Tegalarum. Apakah kita tidak pernah membayangkan bagaimana Amangkurat II membangun istana di Tegal, Belanda membangun karesidenan di Tegal yang membawahi Tegal, Brebes dan Pemalang.

Catatan-catatan yang berserakan ini sungguh sangat disayangkan bila kita tidak dikumpulkan. Berbekal pemahaman itulah maka kami ”nekad” menulis buku ”Tegal Stad”: Evolusi sebuah kota.

Bila saja tidak ada orang yang peduli terhadap sejarah kotanya, maka semakin menegaskan, Tegal sebagai kota tanpa masa lalu. Lalu siapa yang peduli dengan Gedung Tawang Samudra (Gedung Rakyat) gedung tonil masa Belanda yang kini jadi sarang walet. Rumah RA Kardinah yang sudah jadi Mall. Serta gedung-gedung bersejarah lainnya yang dilibas dengan alasan ekonomi. Tegal menjadi hutan beton tanpa mempertimbangkan aspek lingkungan dan mahluk lain yang berhak hidup.

Ada seorang teman setelah membaca buku Tegal Stad berkata:”Enak yah, urip jaman gemiyan”. Komentar ini berangkat dari tulisan Imam Tantowi dalam kata pengantarnya: Water leideng pohon kenari dan pohom asem yang berdaun blekok.

Sepanjang jalan dari alun-alun sampai Stasiun Kereta Api, sesudah jembatan Kali Gung berjajar pohon peneduh, pohon kenari yang tinggi-tinggi. Selain pohon kenari, tumbuh pohon-pohon asem jawa. Bila sore menjelang, pohon-pohon asem itu dipenuhi burung blekok.

Untuk bisa dikatakan kota moderen, tentu tidak harus melupakan wajah masa lalu. Kota dibangun atas nama peradaban, maka selayaknya kita mendukung bila Pemerintah Kota Tegal memiliki ketetapan yang mengikat tentang perlunya pelestarian dan cagar budaya bangunan-bangunan bersejarah, dalam bentuk Perda.

Tulisan ini disampaikan dalam acara lauching buku: Tegal Stad: Evolusi Sebuah Kota, 24 Desember 2008.

Sumber: Tegal Stad. Ditulis oleh Yono Daryono

3,985 total views, 4 views today

  • Ulin Nuha

    Selamat sore min, boleh saya minta alamat email penulis artikel ini? Terima kasih sebelumnya 🙂

    • Silahkan inbox ke FB beliau: Yono Daryono

Skip to toolbar