Menjadi Turis di Daerah Sendiri

Alun-alun Tegal di sore hariMungkin terdengar konyol atau terdengar menghambur-hamburkan uang jika orang mendengarnya secara sekilas. Namun bagi kami, hal tersebut menjadi sesuatu yang patut dicoba. Kami mencoba mencari lokasi wisata mana yang cocok untuk disinggahi. Awalnya kami memilih untuk mencobanya di Guci, namun karena cuaca akhir-akhir ini sering hujan tidak menentu, kami mengurungkan niat kami untuk berwisata ke Guci. Pilihan kedua dan yang kami ambil adalah ke Alun-alun Tegal (AAT).

Kami pun segera booking hotel yang ada di dekat sana. Pilihan kami ada di Hotel Kencana yang ada di timur AAT. Lumayan untuk kelas backpaker-an. Semua keperluan sudah dipersiapkan. Tinggal check in dan perlengkapan dan kendaraan di tinggal di hotel. Sore hari (14/11) kami mencoba jalan-jalan ke arah Taman Pancasila atau yang dulu disebut Taman Poci. Sensasinya sangat terasa berbeda sekali, karena biasanya kami datang kesana sekadar dog los, kini seakan menjadi turis yang baru pertama kali mampir ke Taman Pancasila yang kebetulan saat itu sedang ada pasar malam. Kegiatan kami full foto dan mengamati keadaan sekitar tanpa cemas kehujanan atau pulang kemalaman 😀

Senja menjelang, lapak-lapak mulai didirikan, aneka kuliner mulai membuat kami bingung mau makan apa di sana. Ngga lucu juga jika sudah menjadi turis tapi kok ngga merasakan kuliner khas Tegal. Tahu aci dan soto tauco pun menjadi pilihan kami, semuanya dinikmati dengan lahap tanpa rasa buru-buru atau gelisah mengenai keamanan kendaraan. 😀

Alun-alun Tegal di malam hariMalam harinya lanjut menjajal menu-menu yang ada di angkringan, sekadar membandingkan saja dengan angkringan yang ada di Jogja. Fisik penyajiannya sama, gerobak dengan aneka lauk seperti gorengan, sate ati, dan beberapa bungkus nasi kucing. Namun entah kenapa rasanya pelayanannya kurang ramah dengan alasan sibuk banyak pelanggan atau mungkin memang sifat dari sang penjual saja. Kami mencoba berkomunikasi dengan bahasa Indonesia dengan menghilangkan logat Tegal agar terkesan bukan warga Tegal. Lucu memang 😀

Hal yang membuat miris kami rasakan, pembeli dengan santainya membuang bungkus makanan dijalanan, memang ada beberapa tempat sampah di beberapa titik. Mereka mungkin menganggap, “ah… wis ana sing nyapu ikihan” atau “lah, tong sampahe be kurang akeh…” atau “kue kan tanggungjawabe sing dodol panganan…”. Semua itu kami dengrkan sembari bersenandung lagu “Tegal Kemoncer” dengan perlahan.

Kawasan Alun-alun Tegal memang cocok dijadikan wisata malam, bukan dalam hal negatif, namun memang banyak hal yang bisa kami temui di sana. Sebut saja wisata kuliner, aneka kendaraan hias yang dipasang lampu warna-warni, wisata belanja (tas, baju, aksesoris, dll) dengan harga murah, aneka pilihan hiburan anak, beragam komunitas yang sering gathering, dan masih banyak lagi. AAT mulai bersolek, sarana dan prasarana juga mulai diperbaiki. Terlebih jika Gedung Birao resmi dibuka dan tetap buka pada malam hari, dijamin tidak kalah ramai dari Lawang Sewu di Semarang.

Menu kuliner malam cukup beragam. Yang kami sempat tangkap adalah bubur ayam, aneka lesehan seperti pecel lele, martabak telor, nasi goreng (ini yang paling banyak), batagor, es krim, jajanan kaget (hanya dijual ketika saat booming), dan lain sebagainya. Untuk kenyamanan terutama di area lesehan masih kurang, seperti kurangnya penerangan, tidak ada akses cuci tangan dan toilet, kondisi lapangan yang sangat berdebu, dan masih ada beberapa peminta-minta yang di bawah umur dengan nada memaksa.

Namun ada yang membuat kami tertarik, yaitu bisnis memancing bola di dalam kolam air yang seakan dengan hits di sini. Itu lho, pancingan anak kecil yang ujungnya diberi magnet agar dapat memancing bola, mainan plastik, buah-buahan, dan lain sebagainya. Hanya Rp. 5.000 sudah bisa berlama-lama menyenangkan si buah hati atau kebetulan jika sedang membawa adik atau keponakan yang masih kecil. Yang membuat kami salut adalah, para penunggu permainan kami adalah orang yang tampak berwajah preman sangar namun murah senyum dan tak canggung bercengkrama dengan anak kecil sambil membantu merapihkan kursi-kursi kecil yang berwarna pink 😀

Pagi harinya saat Car Free Day atau hari bebas kendaraan bermotor. Ini nih yang cukup menarik perhatian kami, tanpa diaba-aba, peserta CFD-an langsung mengintari AAT searah jarum jam. Tua muda, laki-laki maupun perempuan tumpah ruah berolahraga sembari bercanda dengan kawan/ kerabatnya. Beberapa mobil terlihat terparkir rapi di sebelah timur AAT.

Pilihan sarapan tidak sebanyak pilihan kuliner malam hari, hanya ada bubur ayam, nasi kuning, atau gudeg karena memang biasanya untuk menu sarapan adalah menu yang praktis. Sembari sarapan, kami mengamati beberapa pengunjung yang asyik berolahraga seperti volley, bersepeda, atau sekedar jogging. Tidak terlalu panas menurut kami, karena dibeberapa tempat terdapat pohon besar yang memberikan angin yang sejuk. Celotehan pengunjung CFD yang mampir di warung-warung makan pun semakin menambah riuhnya acara CFD kali ini.

Dari seharian mengintari kawasan AAT, ada hal yang masih mengganjal kami mengenai fasilitas umum yang belum lengkap. Semisal, toilet. Ataupun kurangnya tempat sampah dan kepedulian warga Tegal sendiri akan kebersihan. Jika ditata sedikit seperti Pujasera yang ada di Semarang mungkin lebih bagus. Sehingga akan lebih menarik dan kreatif lagi.

Piknik ngga harus jauh-jauh dan berkantong tebal. Cukup di Tegal saja juga bisa 🙂

720 total views, 3 views today