Kondisi Tegal pada Masa Prasejarah

Fosil Semedo . Sejarah Tegal
Fosil Homo Erectus yang Ditemukan di Semedo

Menurut sejarah Geografi, dahulu sebelum mengalami zaman Transgresi, Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan merupakan sebuah menanjung besar dari Asia; sehingga Kali Musi, Indragiri dan Kampar bermuara di Teluk/ Laut Tiongkok Selatan, Kali Barito dan kali-kali di Kalimantan Selatan serta kali-kali di pantai utara pulau Jawa semua mengalir ke teluk/ Selat Makasar. Kali Kapuas mengalir ke Laut Tiongkok Selatan, sedangkan Kali Ciliwung mengalir dan bermuara di teluk/selat Sunda. Adapun nama semenanjung besar itu menurut kata orang adalah Semenanjung Melayu.

Pada suatu ketika mengalami zaman transgresi, ialah pada masa glasial, dimana banyak es mencair, sehingga laut menjadi pasang dengan sangat hebatnya dan banyak lembah-lembah yang tergenang air, bahkan terjadi perpecahan. Semenanjuk itu menjadi pulau-pulau seperti sekarang ini, ialah pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan.

Masa transgresi itu sedemikian besarnya, sehingga lembah Kali Pemali, Kali Gung, Kali Cacaban dan sebagainya. Di Tegal merupaka teluk yang jauh menjorok ke darat. Bahkan ada kemungkinan juga daerah gunung kapur Goamacan, dulu juga pernah tertutup air, sehingga oleh para penggali gamping sering di temukan fosil-fosil binatang laut. Endapan makin lama makin menjadi, dan air laut berkurang dan akhirnya Desa Pakulaut sekarang, pernah menjadi teluk dan di Margasari pernah menjadi bandar, terbukti kini terdapatnya Desa Karangbenda. Perobahan dari kata bandar. Serta pernah ditemuka tali ijuk besar oleh penduduk, sewaktu menggali sebuah sumur di Desa Pakulaut.

Tempat pesiar laut yang indah dapat dibuktikan juga; sebab ada tempat yang bernama Balaikambang dan tidak jauh dari tempat itu terdapat Arca Lembu Nandi. Pada kira-kira abad ke-empat atau ke-lima daerah-daerah itu masih berupa teluk besar.

Lebaksiu juga berasal dari kata lebak dan siu yang berarti dataran rendah yang indah. Sedangkan ujungrusi dulu juga merupakan Ujung besar dan juga merupakan bandar. Desa Pulogadung merupakan sebuah pulau makin lama dengan adanya erosi tanah dan endapan pada muara sungai Gung terjadilah dataran baru, dan akhirnya pulau itu bersatu dengan Ujungrusi, hanya terpisah oleh kali Gung saja.

Sistim Evolusi endapan itu secepatnya bisa terjadi, karena arus Kali Gung sangat deras, batu dan pasir yang sangat banyak terbawa banjir mempercepat proses terjadinya dataran baru. Setelah terjadi dataran baru, lama-lama didiami orang yang kemungkinan pindahan dari daerah lereng Gunung Slamet, yang berpindah secara berangsur disebabkan dengan kebutuhan mereka.

Orang-orang purba yang hidup di daerah Tegal kebanyakan berdiam di Danawarih, Watulawang, Batuagung, Semedo, Cacaban, Jejeg dan sebagainya. Sayang sekali peninggalan peninggalan-peninggalan itu kini sulit untuk didapat, karena orang-orang yang menemukan benda-benda tersebut dianggap tidak berarti dan dibuang begitu saja.

Perpindahan penduduk dari daerah pegunungan ke daerah rendah diperkirakan pada Zaman Perunggu,hal ini terbukti dengan sering diketemukannya barang –barang  terbuat dari perunggu, tetapi tidak terdapat peninggalan-peninggalan yang terbuat dari batu, baik dari masa batu baru (neo-lithicum) maupun dari masa batu purba (paleolithicum).

Apakah benar kalau ada perpindahan penduduk?

Hal ini dapat di buktikan adanya satu kebudayaan yang sama terutama tentang bahasa (daerah) dan adat-istiadatnya.

Mereka (penduduk Sekarang) dari Bumijawa sampai Tegal merasa satu kesatuan yang sangat kuat.

Cara Hidup Penduduk Purba

Kapak genggam pada situs Semedo Tegal
Kapak genggam yang ditemukan di situs Semedo

Cara hidup penduduk Zaman Purba adalah masih sangat Primitif. Pakaiannya terbuat dari pada kulit kayu. Makanan yang didapat dari hasil berburu atau menangkap ikan di kali dan mencari buah-buahan. Tempat tinggalnya masih berpindah-pindah tergantung dari banyaknya bahan makanan yang jadi persediaan. Bila suatu tempat persediaan makanan itu telah kurang menguntungkan, maka segera pindah ketempat yang lain. Tempat yang di senangi adalah tempat yang dekat dengan sumber air, pada sumber-sumber air itulah mudah untuk berburu, sebab binatang-binatang setiap waktu mencari air. Juga untuk untuk keperluan hidup yang lain, seperti minum, mandi dan sebagainya. Diperkirakan tempat-tempat mereka pada zaman itu adalah di lembah Kali Gintung, Kali Kumisik, Kali Gung, Kali Cacaban dan Kali Rambut.

Bila berburu, istri dan anaknya di tinggal di tempat di suatu tempat yang dianggap aman. Para Wanita itu lalu bekerja mengerjakan pekerjaan rumah, misalnya membuat makanan bagi suaminya, mengatur pondok, waktu yang masih ada mereka gunakan untuk menanam tanaman yang digunakan untuk persediaan bahan makanan di hari-hari selanjutnya. Dengan demikian maka kaum perempuan lama-kelamaan mereka tidak mau lagi diajak berpindah-pindah dan mulai menetap di suatu tempat yang telah dipilihnya. Sistem perpindahan penduduk kemudian berhenti. Mereka saling membina keluarga, dan hidup cara berburu berkurang, akhirnya bercocok tanam itu yang di utamakan. Mereka berkelompok membina warganya sendiri-sendiri. Bagi yang tertua atau yang tercakap dipilihnya untuk memimpin mereka dan mengatur segala sesuatunya.

Hidup mereka sangat rukun dan selalu bergotong-royong dalam menyelesaikan pekerjaan mereka. Mereka saling tolong-menolong. Anak-anak mereka dididik untuk berburu, bercocok tanam dan sebagainya. Tempat-tempat itu lalu timbul desa-desa seperti sekarang ini. Agama mereka pada waktu dulu menganut Animisme dan Dinamisme. Hal ini terbukti dengan adanya peninggalan seperti menhir di Dermasuci, Karangjambu, Balapulang kulon.

Sumber: Sejarah Tegal. Sumarno, BA.

2,166 total views, 4 views today