Menggagas Smart City di Kota Tegal

Smart Cities
Smart Cities
Photo by Eletsonline.com

Semakin hari, semakin banyak kota di Indonesia yang mulai menampilkan konsep Smart City bagi kotanya. Namun sebenarnya apa sih Smart City itu dan apa yang harus dipersiapkan? Terutama jika diimplementasikan di Kota Tegal? Menurut SmartCityIndonesia.orgSmart City adalah sebuah konsep kota cerdas/pintar yang membantu masyarakat yang berada di dalamnya dengan mengelola sumber daya yang ada dengan efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat/lembaga dalam melakukan kegiatannya ataupun mengantisipasi kejadian yang tak terduga sebelumnya.

Smart City sendiri tidak melulu dengan akses internet gratis di semua sudut kota. Namun banyak manfaat yang bisa kita ambil dan kita pelajari lebih dalam.

Apakah yang Harus Dipersiapkan?

Pertama yang harus dipersiapkan menurut Pak Onno W Purbo dalam sebuah artikel yang dilansir oleh Metro TV News dalam rubrik Telusur adalah Sumber Daya Manusia atau SDM. Baik bagi penyedia layanan dalam hal ini pemerintah maupun pengguna layanan atau masyarakat. Bagi penyedia layanan, perlunya ada pelayanan publik yang baik, cepat, dan memuaskan. Selain pelayanan publik, ada juga keterbukaan informasi. Karena masih banyak pemerintah daerah yang menutup infromasi publik padahal sudah memiliki laman resmi pemerintahannya sendiri. Dan yang ketiga adalah permudah izin atau mungkin birokasi yang lebih ringkas.

Dari pemberi layanan juga perlu disiapkan juga tim yang solid yang paham betul mengenai teknologi informasi, gandeng volunteer muda dibidang teknologi informasi. Karena biasanya, merekalah yang lebih tau apa saja yang dibutuhkan oleh daerahnya.

Selain dari pemberi layanan, yang harus dipersiapkan juga adalah pengguna layanan atau masyarakat itu sendiri. Kini banyak sekolah yang memasukan penggunaan teknologi informasi ke dalam kurikulumnya, baik sebagai alat bantu belajar maupun sebagai sarana untuk melakukan eksplorasi baik bagi peserta didik maupun pengajar. Tak hanya untuk kalangan pelajar atau mahasiswa, bagi warga yang sudah berumur pun perlu diberikan dibimbing. Hal yang menjadi tolak ukur paling minimal adalah, jika sudah piawai menggunakan media sosial, berarti sudah cukup untuk menjajal konsep Smart City.

Lantas, apalagi yang harus dipersiapkan? lanjut Pak Onno W Purbo, adalah infrastruktur teknologi informasi, baik itu duct kabel, swicth, hub, dan lain sebagainya. Namun beliau menegaskan, bahwa teknologi informasi sendiri itu sangatlah fleksibel, karena dapat mengikuti tata ruang yang ada.

Transportasi publik juga jangan sampai terlupakan, karena dalam Smart City , transportasi menjadi pokok utama. Tak ketinggalan juga CCTV yang bisa dilihat secara publik. Namun ini bukan sekedar CCTV yang hanya “ditonton” saja, namun perlu adanya gerak cepat jika terdapat permasalahan di lapangan yang terlihat dalam CCTV. Berarti perlu adanya juga help desk atau support yang siap 24 jam. Teknologi kini sudah semakin canggih, karena sistem dapat di remote dari mana saja 😀

Sistem Seperti Apa Saja yang Dibutuhkan?

Jika berbicara masalah sistem, pasti sudah tidak asing lagi. Karena dari kalangan pemerintahannya sendiri sudah banyak sistem yang digunakan. Namun sayangnya sistem-sistem tersebut tidak saling terintegrasi dengan baik. Sehingga pengguna sistem cenderung akan malas menggunakan sistem tersebut. Kenapa? Karena harus menghafalkan banyak sekali username dan password.

Namun jika ingin memulai dari 0 (nol) mungkin lebih baik dimulai dari level yang paling bawah, yaitu sistem untuk administrasi kependudukan. baik itu akte kelahira, surat pindah, surat kematian, dan sebagainya. Sistem bisa diterapkan dimulai dari pelayanan paling bawah (yang langsung dekat dengan masyarakat), seperti RT/ RW maupun kelurahan. Jika sistem ini sudah berjalan dengan baik, kepercayaan publik/ warga terhadap pemerintahan akan semakin bagus dan tentu saja warganya sendiri akan mendukung program-program pemerintah yang lain.

Kemudian, ada juga sistem pengelolaan pengaturan lalu lintas seperti CCTV yang bisa diakses publik (namun hanya read only), bank darah (stok darah, agenda donor darah, reminder waktu donor darah, dan lain-lain), layanan pengaduan yang bisa dipantau langsung oleh bupati/ walikota, traffic monitoring, pengelolaan transportasi (sayangnya hal ini sepertinya belum bisa diterapkan, karena belum ada transporasi massal yang dikelola oleh pemerintah), Tourism Information Center, SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu), dan masih banyak lagi. Tidak perlu banyak username maupun password, gunakan saja single ID, tinggal sekali login, kemudian bisa memilih sistem apa yang nanti akan dibuka 😀

Tapi apakah perlu sistem sebanyak itu? Tidak ada sistem lain yang lebih simpel? Ada, yaitu gunakan media sosial. Sebut saja Facebook dan Twitter yang saat ini masih mumpuni. Aktifkan satu akun media sosial yang nantinya bisa mencakup semua hal. Hampir sama dengan sistem yang digunakan oleh operator seluler di Indonesia dalam hal help desk.

Bagaimana dengan tempat-tempat yang tidak tercover internet? Atau mungkin dengan warga yang tidak menggunakan smartphone namun hanya handphone biasa? Gunakan saja SMS Gateway, hanya dengan mengetikkan format tertentu, informasi yang dibutuhkan bisa didapat dalam sekejap.

Mampukah Kota Tegal Menampilkan Konsep Smart City?

Sebenarnya mampu, Kota Tegal sendiri masih tergolong “muda”, bukan dalam segi umur hari jadi, namun dilihat dari berbagai macam potensi yang belum 100% dikembangkan. Masyarakat yang rata-rata penduduk urban lebih mudah dalam hal mengadopsi hal baru. Terlebih wilayah Kota Tegal yang berada di daerah strategis dan berada di dataran rendah, tidak terlalu susah untuk memulainya. Asalkan ada dukungan penuh dari pemerintah daerah dan warganya.

Lalu Bagaimana dengan Kabupaten Tegal?

Sebenarnya tidak jauh dengan Kota Tegal, namun yang membedakan adalah luas wilayah, infrastruktur, dan SDMnya. Untuk wilayah Kota Tegal kebanyakan warganya adalah urban, sehingga lebih mudah untuk menerima hal-hal baru, terutama untuk teknologi. Wilayah Kabupaten Tegal juga lebih luas dan lebih kompleks, karena ada wilayah dataran tinggi juga dataran rendah, sehingga tentu saja akan memakan biaya yang cukup besar dalam membangun infrastrukturnya.

Demikian unek-unek saya yang gregetan sekali dengan kota-kota lain yang sudah mulai dengan konsep Smart City. Kalau mereka bisa, kenapa kita tidak? Kami tunggu masukan dan saran yang membangun 🙂

4,426 total views, 4 views today

Related posts