Jejak Bioskop di Tegal

bioskop roxy tegal
bioskop roxy tegal
ROXY (Bioskop Dewi) TEGAL tahun 1948

Bioskop REX (Dewa) dan ROXY (Dewi) merupakan gedung bioskop pertama yang hadir di Tegal. REX dibangun disebelah selatan Alun-alun Tegal sementara ROXY dibangun di sebelah utara alun-alun. Entah siapa lebih dulu yang beroperasi pada waktu itu, tidak ada catatan yang pasti. Namun demikian, kedua gedung bioskop tersebut diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930an. Hal ini berdasarkan catatan sejarah perfilman Indonesia, bahwa pada tanggal 8 November 1934 di Batavia (Jakarta) diadakan pertemuan antara Persatuan Bioskop Hindia Belanda dengan Gabungan Importir Film (Bond Van Filmimporteurs) untuk membahas kerjasama dalam mengatur peredaran film-film yang akan diputar di bioskop-bioskop yang ada di wilayah Hindia Belanda. Data yang ada pada waktu itu tercatat ada sekitar 227 bioskop yang beroperasi di kota-kota wilayah Hindia Belanda, dan disitu tercatat TEGAL merupakan salah satu kota yang sudah ada gedung bioskopnya.

Lalu bagaimana dengan bioskop lainnya?

1. Bioskop Panca Maya.

Bioskop satu layar yang beralamat di Jalan Kapten Soedibyo. Pemiliknya bernama Harsono, bertempat tinggal di Perum Arum Indah, Tegal. Ia mewarisi gedung dan usaha bioskop dari orangtuanya. Sekitar akhir tahun 2000, ia menyewakan bioskop tersebut pada Slamet, yang mempertahankan nama bioskop sampai tutup pada 1 April 2010. Tak lama kemudian, 4 April 2010, Slamet meninggal dunia. Semua peralatan bioskop sudah tidak berada di gedung pemutaran, kecuali layar.

2. Bioskop Adiwerna.

Biskop Adiwerna masih ada hubungannya dengan bioskop Maya begitu orang menyebut bioskop Panca Maya. Berdasarkan keterangan Nurhayati (istri almarhum), di kediaman mereka di Gg. Merah Putih-Tegal, almarhum Slamet pernah mengusahakan bioskop Adiwerna (Slawi) dan Subur (Brebes). Mengenai film-film yang diputar di tiga bioskop tersebut, ada dua sumber pengambilan. Dahulu film-film diambil dari Sanggar Film, sebuah agen penyalur film di Semarang yang mendapatkan kopi film dari Jakarta. Ketika Sanggar Film mengalami kesulitan finansial, almarhum Slamet mendatangkan film dengan jalan berkongsi dengan Rama Rao (saat ini, pemilik bioskop Wijaya-Pemalang) untuk mendatangkan film dari Jakarta, dan memutarnya dengan jalan merotasi pemutaran film-film tersebut antara Pemalang, Brebes, Tegal, dan Slawi. Berdasar pengamatan pada Oktober 2008, film-film yang diputar adalah film impor (utamanya Mandarin) dan Indonesia, dengan tema seputar seksualitas dan dunia gaib.

3. Bioskop Lux/ Dana

Ada juga Bioskop Dana, sebuah bioskop satu layar yang beralamat di Jalan Gajah Mada No. 104 atau sebelah Al Isryad. Saat ini, gedungnya telah beralih fungsi menjadi toko grosir gerabah. Pemiliknya adalah Haji Nadirin yang membeli dari Timbul (pemilik toko ubin Istana-Tegal). Tidak didapat informasi mengenai pemilik dan pengusaha bioskop ini pada masa operasionalnya, karena tidak ditemukannya jejak timbul atau kerabatnya. Berdasar ingatan penyusun laporan ini, film-film yang diputar Dana dari periode 1990-2000 diisi bergantian oleh film Mandarin, Indonesia, dan Amerika. Film produksi India jarang sekali diputar di bioskop ini.

4. Bioskop Duta/ Fortuna.

bioskop duta tegalDi Jalan Gajah Mada, ada bioskop Duta. Tidak diketahui sejarah saat bioskop tersebut masih beroperasi. Berdasarkan informasi, bioskop Duta setidaknya masih beroperasi hingga akhir 70-an, mengingat bioskop tersebut sempat memutar film Pengemis dan Tukang Becak (1978).

5. Riang Theater / Ganefo/ Fortuna.

riang theater tegal
Sumber: artonortega74

Ada juga Riang Theater, bioskop satu layar yang beralamat di Jalan Udang. Bioskop tersebut lazimnya memutar film produksi India, dengan selingan film Indonesia, Mandirin, maupun Amerika. Saat ini, gedung tersebut berfungsi sebagai gudang di Jl. Udang. belakang Danlanal.

6. Bioskop Jupiter.

Menurut Pak Budiarto Gondowijoyo, bioskop Jupiter baru ada disekitar tahun 1950-an bersamaan dengan berdirinya THHK (Tiong Hoa Hwee Kwan) atau Rumah Perkumpulan Tionghoa yang mungkin awalnya digunakan sebagai ruang auditorium yang kemudian berubah menjadi bioskop.

Lokasi bekas Bioskop Jupiter ada di Gedung Wanita dekat SMAN 4 Tegal.

7. Bioskop Plaza Marina.

Satu bioskop yang cukup besar adalah Bioskop Plaza Marina. Bioskop dua layar tersebut menjadi satu dengan pusat perbelanjaan Marina, yang dimiliki oleh kongsi dagang King Brothers. Ketika pusat perbelanjaan tersebut tutup, tersiar kabar kalau Andi, pemilik bioskop Plaza Marina, berniat menjual gedung tersebut. Berdasarkan pengamatan pada Oktober 2008, Plaza Marina beroperasi dengan hanya satu layar dan memutar film-film Indonesia.

9. Bioskop Rama

bisokop rama SlawiPosisinya tepat di perempatan timur MC Slawi. Posisinya yang strategis membuat bangunan ini menjadi pusat perhatian bagi yang melewati pusat Kota Slawi ini. Kini bioskop ini menjadi warung makan yang sebelumnya menjadi tempat billyard.

10. Bioskop Singa

bioskop singa slawiBagi yang hobi main ding-dong pasti hapal dengan bioskop yang satu ini. Ya, Bioskop Singa. Bioskop yang berada di dekat Randualas ini cukup terkenal. Cerita dari warga sekitar, jika film hendak mulai, parkiran depan penuh sesak dengan sepeda onthel dari penonton. Banyak yang bercerita jika di dalam bioskop ini banyak terdapat hewan pengerat seperti tikus dan kebiasaan dari pengunjung yang buang air sembarangan sehingga di dalam ruangan tercium bau pesing :O

11. Bioskop Raja/ Irama Banjaran.

Sebelum ada supermarket Banjaran Permai, dulu pasar gede Banjaran merupakan salah satu pasar tradisional besar yang ada di Kabupaten Tegal.

12. Bioskop Intan Slawi.

Posisi bioskop ini ada di daerah Kagok, Slawi atau tepatnya di timur Bank CIMB.

13. Bioskop Pelangi Pagongan.

Tak heran jika di Pagongan terdapat sebuah tempat hiburan seperti bioskop, karena pada jaman dahulu, di daerah Pagongan terdapat sebuah pabrik gula (Suiker fabriek) Pagongan (sekitar tahun 1928 – 1940) yang kini menjadi Kodim dan sebagian Pasar Pagongan. Posisi bioskop ini berada tepat di depan Pasar Pagongan yang kini menjadi dealer motor.

14. Bioskop Omega.

Tak banyak cerita tentang sejarah biskop yang sekarang berubah menjadi peternakan burung walet. Sama halnya dengan Bioskop Pagongan, dulu di daerah Balapulang Kulon terdapat juga pabrik gula SF Balapoelang (1920-1935). Lokasinya pun tepat disebelah pabrik gula tersebut.

Sumber: Film Indonesia

Foto-foto: Iwan K. Soewondo

5,740 total views, 4 views today

Related posts