Sejarah dan Buku Tegal: Raden Purbaya

buku raden purbaya tegalTersebutlah seorang raden yang tampan, rendah hati, cerdas, berwibawa, mudah bergaul, lagi sakti, beliau adalah Raden Purbaya atau Senapati Hamasesa, putra dari penguasa Mataram saat itu, Panembahan Senopati. Meskipun beliau merupakan putra pengusa Mataram, namun tetap hidup layaknya orang biasa, beliau tidak menginginkan gemerlapnya kehidupan kraton. Penghuni kraton pun sangat segan dengan Raden Purbaya yang begitu dekat dengan semua yang ada di dalam kraton.

Saat Kasultanan Banten hendak menyerang Mataram, Raden Purbaya berhasil menundukan Banten tanpa pertumpahan darah. Yaitu dengan mendatangi Kasultanan Banten dan bertemu langsung dengan sultan Banten Molana Muhammad pada akhir abad XVI ditemani dengan Ki Juru Taman, khadam Raden Purbaya.

Tak hanya itu, ketika kerajaan Palembang hendak menyerang Mataram pun Raden Purbaya berhasil mematahkan rencana penyerangan kerajaan Palembang dengan membelah pusaka kerajaan Palembang, Pusaka Batu Sela Aji hanya dengan sekali tebas menggunakan jari telunjuknya.

Suatu ketika, Pangeran Pasingsingan atau ksatria dari Pajajaran menyusup ke kraton Mataram dengan membuat marah Panembahan senopati. Raden Purbaya ijin kepada ayahandanya untuk mengejar Pangeran Pasingsingan sekaligus untuk menebus kesalahannya karena membuat kecewa ayahandanya ketika pasukan dari Palembang bertandang ke Mataram. Raden Purbaya mengejarnya hingga bertemu Pangeran Pasingsingan di suatu tempat yang bernama Dukuh Pelawangan (perbatasan Pemalang dan Kabupaten Tegal). Saat itu juga kedua ksatria unjuk kekuatan dari pagi hingga petang, mereka menyadari bahwa Raden Purbaya mendapati lawan yang seimbang. Pertarungan berlanjut hingga ke Desa Sumbregan (Slarang Kidul, Kecamatan Lebaksiu) namun sayangnya Pangeran Pasingsingan melarikan diri.

Singkat cerita, Raden Purbaya menetap di Slarang Kidul dan mendirikan padepokan bela diri. Di padepokan tersebut, Radn Purbaya menyembunyikan identitas dirinya dan warga sekitar mengenalnya dengan nama Ki Jadug. Raden Purbaya dibantu oleh dua orang temannya, Ki Cipta Sari dan Ki Wangsa Yudha. Hingga suatu ketika Raden Purbaya mendengar ada seorang tokoh alim ulama yang disegani di Tlatah Tegal yang bernama Ki Gede Sebayu. Beliau berniat bertemu dengannya di daerah Karangmangu, Kalisoka atau sekitar 20 KM ke arah tenggara.

Saat bertemu, Ki Gede Sebayu sadar bahwa KI Jadug bukannlah orang biasa karena aura kuat  yang terpancar pada dirinya. Hingga akhirnya Ki Jadug membuka identitas dirinya sebagai putra dari Panambahan Senopati. Ki Gede Sebayu pun terkejut dan langsung membungkuk di hadapan Raden Purbaya, namun beliau langsung mengangkat pundak Ki Gede Sebayu agar tidak membungkuk. Beliau pun mengutarakan tujuannya bertemu dengan Ki Gede Sebayu, yaitu ingin menemukan jati dirinya dan ingin menjadi santri dari pesantren yang dibuat Ki Gede Sebayu.

Waktu terus berlalu, ilmu agama & kanuragan sudah banyak dipelajari Raden Prubaya. Suatu ketika Ki Gede Sebayu menyadakan sayembara, barangsiapa yang mampu merobohkan pohon jati besar yang ada di Dukuh Babakan (Jatiwala), Desa Jatimulya, Kec. Lebaksiu, akan diangkat oleh Ki Gede Sebayu sebagai menantu. Pohon jati tersebut rencananya akan digunakan untuk tiang utama pembangunan masjid. Satu, dua, hingga dua puluh empat pendekar tak mampu merobohkan pohon jati tersebut. Kemudian peserta ke dua puluh lima, Ki Jadug, maju, Ki Gede Sebayu hanya tersenyum, karena beliau paham betul siapa Ki Jadug, hanya dengan kuda-kuda dan tangannya bergerak dengan posisi seakan siap mendorong, pohon jati tersebut tumbang dengan sendirinya. Seketika itu juga Ki Gede Sebayu mengangkat Ki Jadug atau Raden Purbaya sebagai menantunya untuk menikahi putrinya, Ayu Rara Giyanti Subalaksana. Disamping itu pula Ki Gede Sebayu menetapkan daerah tersebut dengan Desa Selawi.

Tahu demi tahun berlalu, sepeninggal Ki Gede Sebayu, Raden Purbaya menggantikan kepemimpinan Ki Gede Sebayu di pesantren di Padepokan Karangmangu – Kalisoka, sementara itu raden Mas Anggawana meneruskan menjadi Juru Demung. Untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, beliau membuat gubug sederhana untuk mesuh raga (mensucikan diri) dengan cara menggali tanah sedalam 3 meter dengan ukuran 1x 2meter, mirip sebuah kuburan.

Suatu pagi, saat itu musim kemarau panjang tak menyisakan air sedikitpun,  Raden Purbaya berdo’a dan meminta petunjuk kepada-Nya, kemudian ditancapkanlah batang bamboo pada tanah berbukit, seketika itu juga air langsung memancar dan membentuk saluran ke arah sungai. Air tersebut tak berhentinya memancar dan penduduk sekitar menamainya dengan Tuk Dandang.

Pernikahan Raden Purbaya dengan Giyanti Subalaksana dikaruniai seorang anak yang bernama Ramidi.  Ki Ciptasari yang pindah ke Cenggini bersama keluarganya menengok Raden Purbaya. Kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan mereka. Saat peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW., giliran Raden Purbaya yang mengunjungi Ki Ciptasari, dari kunjungan tersebut, Raden Purbaya ingin hubungan silaturahmi tersebut terus terjalin hingga keturunanya kelak. Raden Purbaya memiliki ide, yaitu dengan membuat sebuah monummonumentuarga yang berupa bangunan yang berisi kolam ikan tambra atau ikan dewa yang pada saat itu hanya dapat didapatkan di Situ Cibulan.

Rencana tersebut dimulai dengan membuat kolam besar dengan bantuan santri dan penduduk sekitar. Para ibu dan Nyi Purbaya pun ikut membantu dengan meniapkan air minum dan makanan. Pada hari ketujuh, para pekerja mulai kepayahan, banyak yang jatuh sakit. Raden Purbaya meminta pada para pekerja yang masih tersisa untuk duduk dan tahlinan dan tidur di lokasi pembuatan kolam tersebut. Tidak boleh ada yang terjaga pada malam itu. Ketika semua penduduk terlelap, Raden Purbaya merapal ajian Bala Demit Seketi yang dulu pernah diajarkan oleh Ki Gede Sebayu. Ajian tersebut juga sama digunakan saat membangun Bendungan Danawarih.

Saat pagi menjelang, bangunan kolam sudah jadi. Seketika itupula penduduk keheranan dengan keajaiban tersebut. Kemudian Raden Purbaya dan Ki Wangsa Yudha pamit pergi ke Situ Cibulan di tanah Pasundan. Bulan telah berganti, Raden Purbaya dan Ki Wangsa Yudha kembali ke padepoka n dengan membawa bibit ikan tambra masing-masing sepasang di dalam dua buah kelapa. Ki Wangsa Yudha langsung membelah kelapa tersebut dan ikan tambra yang ada di dalamnya  langsung dimasukan ke dalam tempayan. Raden Purbaya pun berwasiat, siapapun tidak boleh mengambil dan memakan ikan tambra tanpa seijin keluarga raden Purbaya di Kalisoka. Dan keluarga Ki Ciptasari boleh mengambil dan memakan ikan tersebut jika keturunan Raden Purbaya dari Kalisoka dating berkunjung. Maksud dari wasiat tersebut adalah agar kelak keturunan mereka tidak berselisih mengenai keberadaan ikan tersebut.

Begitulah cerita mengenai Raden Purbaya yang merupakan hasil ringkasan dari buku raden Purbaya, Syekh Abdul Ghofar yang disusun dan diterbitkan oleh Tim Litera Aksara di tahun 2008. Buku bergambar yang memiliki jumlah halaman sebanyak 63 halaman ini seakan menjadi salah satu “penerang” sejarah Tegal yang sebagaimana kita ketahui bersama sejarah Tegal masih minim referensi.

3,493 total views, 11 views today