Buku: Tiga Hari di Negeri Moci

Tiga Hari di negeri MociKami bertiga pun menuangkan ke cangkir masing-masing yang sudah diberi gula batu sebelumnya. Lalu kami pun larut dalam obrolan hangat seperti larutnya gula batu dalam tuangan air panas yang menyiramnya.

Obrolan kami membahas segala hal, tidak hanya tentang Tegal. Tentang Indonesia, masyarakatnya, permasalahan, budaya, tradisi, filsafat, bahkan hingga politik. Aku sangat larut dalam obrolan santai ini. Obrolan yang saling menerima pendapat, kritikan, dan masukan, tanpa adanya ketegangan maupun pemaksaan atas hal itu.

Meskipun usia kami berdua dengan Pak Teguh terpaut cukup jauh, namun itu bukan menjadi alasan untuk tidak bisa saling menghormati. Menghormati pendapat masing-masing, tanpa pemaksaan atas keakuan yang cenderung semakin sering ditemukan dalam masyarakat kita sekarang.

Beberapa petikan tersebut adalah sepenggal kecil kisah cerita yang tertuang dalam buku “Tiga Hari di Negeri Moci” karya pemuda asli Tegal. Berbicara tentang Tegal, memang tiada habisnya. Sejarah, wisata, kuliner, seni, serta kebudayaan lainnya, begitu terbentang luas di sepanjang tlatah Tegal. Namun, alangkah mirisnya, jika masih banyak warga Tegal yang tidak mengetahui, bahkan tidak peduli dengan beragam keunikan dan kekayaan yang ada di Tegal tersebut.

Jika ditelusuri lebih mendalam, banyak sekali sisi-sisi dan nilai-nilai yang belum digali dan terekspos, yang sebenarnya mengandung kearifan lokal dan refleksi jati diri sebagai masyarakat Tegal. Sebuah refleksi yang mengarahkan kepada sebuah kebanggaan dan kepemilikan sebagai masyarakat kebudayaan Tegal.

Masih sedikit sekali literasi tentang dokumentasi dan arsip perihal kekayaan dan kearifan tersebut. Baik itu sebagai literasi bacaan ringan, maupun literasi bacaan akademis. Maka dari itu, diperlukan langkah-langkah untuk turut berpartisipasi dan berkontribusi dalam meningkatkan minat literasi dan juga riset tentang ketegalan.

Buku “Tiga Hari di Negeri Moci”, sebagai sebuah buku semifiksi seminovel, mencoba menjadi referensi dan alternatif dalam memberikan penyajian kekayaan Tegal. Setiap lekukan keindahan dalam beragam artefak dan gagasan, ditampilkan dalam penyajian bahasa dan alur yang sederhana, untuk mempermudah pembaca memahami setiap keindahan dalam makna yang terkandung dalam setiap lekukan tersebut.

Dengan gaya bahasa yang santai namun sarat dengan hal-hal yang ada di Tegal ini akan membawa kita seperti sedang keliling Tegal dan bahkan ada bagian saat pertama kali mecicipi kuliner Tegal.

Baca selengkapnya di buku “Tiga Hari di Negeri Moci”, dengan menghubungi langsung Irwan (0857.4272.4493) untuk melakukan pemesanan buku karena buku tersebut belum dijual di toko buku. Jika bukan diri kita sendiri yang mengetahui jati diri kita, lalu siapa lagi?

402 total views, 2 views today

Skip to toolbar