Sejarah Pemberontakan Kutil di Tegal

Pemberontakan Kutil

Film Pemberontakan Kutil

Pada tahun 1945, Kutil, bernama asli Sakhyani, seorang tukang cukur sekaligus preman desa di daerah Talang, kabupaten Tegal, Jawa Tengah, bertransformasi menjadi seorang pahlawan. Sebagai seorang yang lahir pada dekade 1970-an, amatlah sulit untuk mendengar kabar mengenai namanya. Tak ada setitikpun dalam pelajaran sejarah yang diberikan guru-guru semenjak bersekolah di Sekolah Dasar, pernah mengungkit namanya, ataupun peristiwa yang membesarkan namanya. Kutil seakan tak pernah eksis. Peristiwa yang membuatnya terkenal juga sama. Bahkan hingga hari ini, peristiwa tersebut masih tidak dibuka sepenuhnya.

Peristiwa yang melambungkan namanya, adalah peristiwa yang dikenal dengan sebutan Pemberontakan Tiga Daerah. Nama tersebut memang berkaitan dengan nama lokasi di mana di tiga daerah, pemberontakan meletup secara simultan: Brebes, Tegal, dan Pekalongan. Pemberontakan tersebut meletup di sekitaran Oktober 1945, kala Indonesia sedang dilanda dengan euforia kemerdekaan. Pemberontakan ini, mungkin memang tidak dikenal—atau sengaja dilupakan—akibat karakteristiknya yang dalam kultur popular dewasa ini dikenal dengan istilah anti-hero. Di sana, isu mengenai kekuasaan dipertanyakan dengan aksi yang tidak tanggung-tanggung: bangsawan, kolonial, elit-elit daerah, diarak, dipermalukan dan banyak di antaranya dibunuh.

Para petani dan buruh-buruh miskin, bangkit mengangkat senjata, menyerang dan membunuhi anggota-anggota kelas atas. Tokoh yang namanya menjulangpun bukanlah tokoh dari pihak yang baik sebagaimana pahlawan-pahlawan lainnya sebagaimana yang tertulis di buku sejarah, tokohnya adalah lenggaong atau preman desa. Pemberontakan tersebut memang pemberontakan melawan kolonialisme Jepang, tapi ia juga adalah pemberontakan melawan pemerintahan formal Republik Indonesia yang kala itu berada di tangan Sukarno—tidak untuk mendirikan negara terpisah seperti yang dikumandangkan oleh banyak daerah lain, tapi sekedar menuntut otonomi penuh atas daerah dan cara hidup di tempat di mana mereka tinggal.

Satu kasus yang dianggap paling memalukan oleh cukup banyak pihak, adalah dengan diaraknya adik kandung R.A. Kartini, Kardinah, akibat posisi sosialnya yang merupakan bagian dari kelas bangsawan. Memang Kardinah berhasil diselamatkan oleh beberapa orang yang bersimpati padanya, tepat beberapa saat sebelum Kutil memutuskan untuk mengeksekusinya. Jenderal Sudirman, sang tokoh gerilya dalam episode-episode perlawanan terhadap koloni Belanda, mengaku kebingungan atas peristiwa pemberontakan tersebut.

Presiden Sukarno bahkan juga pernah tercatat menyatakan bahwa Tiga Daerah adalah sebuah negara sendiri, karena penduduknya tidak mengakui kekuasaan pemerintah pusat. Nama Kardinah diabadikan sebagai nama sebuah Rumah Sakit Umum di Tegal, sementara nama Kutil, nyaris tetap tak pernah eksis di benak kita semua.

Kutil menutup mata, setelah ia menolak matanya ditutup di hadapan regu tembak Republik Indonesia, akibat terjangan peluru, di pinggir pantai dekat Pekalongan pada 5 Mei 1951.

SUmber:

injakbeling.blogspot.com

http://www.koranlokal.com/fastnews.php?no=583104

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3987492

1,119 total views, 3 views today