Kisah Man Draup

man draup tegal

Siapa tak kenal dengan sosok yang bernama Man Draup? Man Draup sendiri merupakan tokoh fiktif di dalam lagu Tegalan yang berjudul Man Draup Teol ciptaan Najeeb Baresy atau biasa disapa Najeeb dimana lagu tersebut masih nge-hits dari dulu hingga sekarang. Man Draup sendiri seakan menjadi trademark kehidupan tukang becak. Lagu Man Draup Teol sendiri bercerita tentang kesialan Man Draup sendiri yang kehidupannya sehar-hari sebagai penarik becak. Ia memiliki sifat penyabar dan suka guyon, usianya pun terbilang renta namun karena himpitan ekonomi yang mengharuskan beliau tetap menarik becak. Karena usianya yang…

Read More

Ini Dia Pembuat Logo Kota Tegal

Logo Kota Tegal

Logo Kota Tegal yang setiap hari kita lihat, pernahkah timbul pertanyaan dibenak teman-teman mengenai siapa pembuat logo “perahu layar” tersebut? Adalah Pak H. Hasan Bisri, pria kelahiran 29 Juni 1945. Beliau berkisah, walnya beliau mengikuti lomba membuat Logo Kota Tegal di tahun 1972. Saat itu ada sekitar 160 peserta baik dari dalam maupun luar Kota Tegal. Pak H. Hasan Bisri ini mengumpulkan logo h-3 sebelum batas penutupan lomba. Dan tak dinyana, hasil karya beliaulah yang terpilih. Namun saat itu ada sekitar 2 orang lagi yang dinyatakan sebagai juara, sehingga tidak…

Read More

Sejarah Pemberontakan Brandal Mas Cilik di Tegal

Brandal Mas Cilik Tegal

Tahun 1857 Tumenggung Reksonegoro VIII meninggal dan untuk penggantinya dicalonkan R. M. Ore (Tumenggung Panggar), ialah Putra nomor dua dari Reksonegoro VIII Tetapi karena masih kecil, Pemerintah Belanda menangguhkannya, dan untuk sementara diangkat Tumenggung Sosronegoro sebagai Bupati dengan status Wakil Bupati. Sayang Tumenggung Sosronegoro baru menjabat 2 tahun lalu meninggal dunia. Sebelum meninggal dunia Tumenggung Sosronegoro membangun astana R. Abunawa yang terkenal dengan sebutan Ki Ageng Balamoa. R. Abunawa yang dimakamkan di Balamoa adalah Putra R. Banawa Bupati Pemalang (1582-1600), cucu dari Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijoyo di Pajang). Tumenggung Sosronegoro…

Read More

Jejak Bioskop di Tegal

bioskop roxy tegal

Bioskop REX (Dewa) dan ROXY (Dewi) merupakan gedung bioskop pertama yang hadir di Tegal. REX dibangun disebelah selatan Alun-alun Tegal sementara ROXY dibangun di sebelah utara alun-alun. Entah siapa lebih dulu yang beroperasi pada waktu itu, tidak ada catatan yang pasti. Namun demikian, kedua gedung bioskop tersebut diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930an. Hal ini berdasarkan catatan sejarah perfilman Indonesia, bahwa pada tanggal 8 November 1934 di Batavia (Jakarta) diadakan pertemuan antara Persatuan Bioskop Hindia Belanda dengan Gabungan Importir Film (Bond Van Filmimporteurs) untuk membahas kerjasama dalam mengatur peredaran film-film…

Read More

Budaya Sintren dan Lais di Tegal

Budaya sintren tegal

Pengaruh itu terasa pada peninggalan budaya di bidang kesenian, hingga sekarang dapat dikata hanya daerah Tegal saja yang terdapat  tarian SINTREN dan LAIS, Sintren  lebih terkenal daripada Lais. Tarian Sintren ataupun Lais adalah tarian yang berdasarkan magis, yang diadakan dalam upacara adat untuk mohon hujan diadakan selama 40 malam berturut-turut. Sintren yang pegang peran adalah gadis yang masih murni bila gadis itu sudah tidak murni lagi maka tidak akan dapat menerima rokh yang akan masuk kedalam badannya. Lais yang pegang peran adalah bujang  (jejaka), juga harus yang masih murni. Baik…

Read More

Dialek Tegal dalam Perspektif Warisan Kekayaan Budaya

Hadi Utomo, Bahasa Tegal

Pendahuluan Dalam terminologi politik kebangsaan, kata bahasa terkait dengan pasal 36 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa bahasa negara ialah Bahasa Indonesia. Sedangkan mengenai bahasa daerah disebutkan dalam pasal 32 (ayat2) bahwa negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.  Jika dialek Tegal dimaknai sebagai subsistem dari bahasa daerah (Jawa) maka dialek Tegal adalah kekayaan budaya daerah yang juga harus dihormati dan dipelihara. Dialek Tegal adalah ragam bahasa setempat yang sejak lama digunakan sebagai sarana komunikasi,ekspresi budaya dan kreatifitas seni, serta identitas sosial warga masyarakat yang berasal dan berdomisili…

Read More

Jablud, Folklore Lisan Masyarakat Tegal

Jablud Tegal

Entah mulai kapan ada sebutan atau penamaan “Jablud” kepada seseorang di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tegal. Walaupun orang yang dijuluki atau dipanggil Jablud memiliki nama asli yang bagus, akan tetapi jika perilakunya masuk dalam kategori “Jabud” maka akan diberi embel-embel nama jablud dibelakangnya. Misal, nama aslinya Udin maka akan menjadi Udin Jablud. Menurut penuturan Bpk Edy Bulyamin (57 th) seorang mantan kepala desa Kemuning Rt 01/Rw02 kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal, menuturkan alasan kenapa seseorang bisa disebut Jablud: Jablud kue julukan nggo bocah cilik sing mbedud, nggratil, dlalapan, karo angel dikandani.…

Read More

Tari Mina Lodra dan Retno Tanjung Kota Tegal Dilaunching

tari Mina Lodra Kota Tegal

Dua tari karya Endang Supadmi, Mina Lodra dan Retno Tanjung dilaunching, Senin (08/12). Kedua tari penyambut tamu dan hiburan milik Kota Tegal itu kini sedang diproses mendapatkan Hak Paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI. “Kedua tari ini sedang dipatenkan ke HAKI tahun lalu. Proses tindaklanjut tahun ini oleh Disdik diharapkan delapan bulan ke depan sudah jadi,” ungkap Endang Supadmi usai peluncuran kedua tari tersebut di Lapangan Tegal Timur Kota Tegal siang kemarin. Kedua tari tersebut ditarikan bergilliran di sesi terakhir setelah acara pembukaan…

Read More

Sejarah Lain dari Mardiyah di Tegal

Ilustrasi Mardiyah oleh Salim Aziz

Di bulan Februari 2013, InfoTegal pernah posting mengenai sejarah Mardiyah, salah satu tokoh yang paling terkenal di Tegal dengan “tagline-nya”  Duite Mardiyah. Kemudian tak berselang lama salah seorang pengunjung yang bernama Dasuki Raswadi meninggalkan komentar mengenai sejarah lain dari Mardiyah. Berikut sejarahnya: Cerita tentang Mardiyah tokoh legendaris asal Tegal yang kaya raya menurut sumber yang bisa dipertanggung jawabkan (menurut Dasuki Raswadi) adalah Hj. Mardiyah. Wanita kaya itu lahir sekitar tahun 1908 dan memiliki adik yang bernama Zainnudin Yasin, Zainurridho, Kapsah, dan A. Wahid. Beliau hidup dan meninggal di Desa Bandasari…

Read More